TEMANI

Sirah Nabawiyah · Bagian X · Keluarga

Ummahatul Mukminin dan Keluarga Rasulullah ﷺ

Istri-istri dan putra-putri beliau

Profil singkat setiap Ummahatul Mukminin beserta latar belakang pernikahannya, kesederhanaan rumah tangga Nabi ﷺ, serta kisah putra-putri beliau.

10.1 Istri-Istri Nabi ﷺ (Ummahatul Mukminin)

Al-Qur'an menyebut istri-istri Nabi ﷺ sebagai ibu bagi kaum mukminin:

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.”

— QS. Al-Ahzab: 6

Catatan: Penting dicatat bahwa Nabi ﷺ bermonogami bersama Khadijah selama 25 tahun hingga wafatnya, dan seluruh pernikahan setelahnya terjadi setelah beliau berusia di atas 50 tahun, masing-masing dengan latar belakang dakwah, sosial, atau politik yang jelas.

Para istri beliau setelah Khadijah adalah:

  1. Saudah binti Zam'ah, janda muhajirin Habasyah yang ditinggal wafat suaminya; dinikahi untuk melindungi dan menjaga keimanannya di usia senja.
  2. 'Aisyah binti Abi Bakr, satu-satunya yang dinikahi dalam keadaan gadis, putri sahabat terdekat beliau; kelak menjadi salah satu ulama terbesar umat, meriwayatkan lebih dari dua ribu hadits dan menjadi rujukan fikih para sahabat senior sepeninggal Nabi ﷺ.
  3. Hafshah binti 'Umar, janda perang yang ayahnya adalah 'Umar bin Al-Khaththab; kepadanya kelak dititipkan mushaf Al-Qur'an hasil pengumpulan pertama.
  4. Zainab binti Khuzaimah, dijuluki Ummul Masakin (ibu kaum miskin) karena kedermawanannya; wafat hanya beberapa bulan setelah pernikahan.
  5. Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah), janda Abu Salamah yang wafat akibat luka Perang Uhud; dikenal cerdas dan sarannya pada peristiwa Hudaibiyah menyelamatkan situasi genting.
  6. Zainab binti Jahsy, sepupu beliau, dinikahi atas perintah langsung Allah untuk menghapus hukum anak angkat.
  7. Juwairiyah binti Al-Harits, putri pemimpin Bani Al-Musthaliq; pernikahannya menyebabkan pembebasan massal tawanan kaumnya.
  8. Ummu Habibah (Ramlah binti Abi Sufyan), putri pemimpin Quraisy yang berhijrah ke Habasyah dan ditinggal murtad suaminya; dinikahi Nabi ﷺ melalui akad jarak jauh yang diwakili Najasyi sebagai perlindungan atas keteguhan imannya.
  9. Shafiyyah binti Huyay, putri pemimpin Bani Nadhir, keturunan Nabi Harun 'alaihissalam; dimerdekakan dari tawanan Khaibar dan kemerdekaannya dijadikan mahar.
  10. Maimunah binti Al-Harits, dinikahi setelah Umrah Al-Qadha, mempererat hubungan dengan kabilah-kabilah Najd.

Selain itu, Mariyah Al-Qibthiyyah, hadiah dari Muqauqis penguasa Mesir, melahirkan putra beliau Ibrahim.

Kehidupan rumah tangga beliau berlangsung dalam kesederhanaan yang luar biasa — 'Aisyah meriwayatkan bahwa dapur keluarga Nabi ﷺ terkadang tidak mengepulkan asap selama satu-dua bulan penuh, hanya bertahan dengan kurma dan air (HR. Al-Bukhari). Bahkan ketika para istri pernah meminta peningkatan nafkah, turun ayat takhyir (QS. Al-Ahzab: 28-29) yang menawarkan pilihan antara dunia atau Allah dan Rasul-Nya — dan seluruh istri beliau memilih Allah dan Rasul-Nya.

10.2 Putra-Putri Rasulullah ﷺ

Seluruh anak Nabi ﷺ lahir dari Khadijah kecuali Ibrahim dari Mariyah. Ketiga putra beliau — Al-Qasim, 'Abdullah, dan Ibrahim — wafat saat masih kecil.

Ketika Ibrahim wafat pada tahun 10 H, bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari, sebagian orang mengaitkan gerhana itu dengan kematiannya. Nabi ﷺ justru menepis anggapan ini dengan tegas — sebuah sikap ilmiah yang menolak mitos meski menguntungkan citranya:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah; keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, tidak pula karena kelahirannya.”

— HR. Al-Bukhari, no. 1043 dan Muslim, no. 915

Keempat putri beliau — Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah — seluruhnya masuk Islam dan berhijrah. Tiga putri pertama wafat mendahului beliau. Hanya Fathimah radhiyallahu 'anha yang hidup sepeninggal beliau — itu pun hanya sekitar enam bulan.

Menjelang wafat, Nabi ﷺ membisikinya dua kali: bisikan pertama membuatnya menangis (kabar bahwa beliau akan wafat), bisikan kedua membuatnya tertawa (kabar bahwa Fathimah adalah anggota keluarga pertama yang akan menyusulnya, dan bahwa ia pemimpin wanita penghuni surga), sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim.

Melalui pernikahan Fathimah dengan 'Ali bin Abi Thalib, lahirlah Al-Hasan dan Al-Husain, dua cucu kesayangan Nabi ﷺ yang beliau sebut sebagai pemimpin para pemuda penghuni surga.