Sirah Nabawiyah · Bagian IX · Periode Madinah
Haji Wada' dan Wafatnya Rasulullah ﷺ
Khutbah Arafah hingga Ar-Rafiq Al-A'la
Haji perpisahan dan khutbah agung di Padang Arafah, sakit terakhir Rasulullah ﷺ, wafatnya beliau, dan ketenangan iman Abu Bakar yang meneguhkan umat.
9.1 Haji Wada' (Haji Perpisahan)
Pada bulan Dzulhijjah tahun 10 Hijriyyah, Nabi ﷺ melaksanakan ibadah haji untuk satu-satunya kali dalam hidupnya setelah hijrah, didampingi lebih dari 100.000 sahabat yang datang dari seluruh penjuru Jazirah Arab yang telah bersatu dalam Islam. Haji ini dikenal sebagai Haji Wada' (Haji Perpisahan) karena menjadi pertanda dekatnya akhir kehidupan beliau — sebuah firasat yang beliau sampaikan sendiri kepada para sahabat, sehingga mereka menangis mendengarnya.
Dalam perjalanan haji ini, Nabi ﷺ mempraktikkan dan mengajarkan seluruh manasik haji secara langsung, dari ihram di Dzul Hulaifah, thawaf, sa'i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, hingga melontar jumrah, seraya bersabda, "Ambillah dariku tata cara manasik kalian" (HR. Muslim, no. 1297), yang menjadi rujukan utama fikih haji hingga hari ini.
Di Padang Arafah, Nabi ﷺ menyampaikan khutbah agung yang menjadi rangkuman ajaran Islam, di antara isinya:
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian haram (untuk dilanggar) atas kalian, sebagaimana haramnya (kesucian) hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini.”
— HR. Al-Bukhari dan Muslim
Beliau juga menegaskan persamaan derajat manusia tanpa memandang suku dan warna kulit:
لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى
“Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab, dan tidak ada keutamaan bagi orang non-Arab atas orang Arab. Tidak ada keutamaan bagi orang kulit merah atas orang kulit hitam, dan tidak ada keutamaan bagi orang kulit hitam atas orang kulit merah, kecuali dengan takwa.”
— HR. Ahmad, Musnad Ahmad no. 22978 — makna yang masyhur dalam khutbah Haji Wada'
Beliau juga menegaskan kewajiban menunaikan amanah, larangan riba (yang dinyatakan dihapus seluruhnya dimulai dari riba pamannya sendiri, Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib), pesan agar memperlakukan istri dengan baik, dan larangan kembali kepada kekufuran dengan saling membunuh sesama Muslim sepeninggal beliau. Beliau juga berpesan agar umatnya berpegang teguh pada dua pusaka: Kitabullah dan Sunnah beliau, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Muwaththa' Imam Malik, serta menyampaikan agar yang hadir menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir.
Setiap kali menyampaikan satu pesan, beliau bertanya kepada jamaah, "Bukankah aku telah menyampaikan?" (Allahumma hal ballaghtu), dan mereka menjawab serentak, "Benar, engkau telah menyampaikan," lalu beliau mengangkat jari seraya berkata, "Ya Allah, saksikanlah."
Pada saat inilah, ketika Nabi ﷺ tengah wukuf di Arafah menunggangi untanya, turun ayat penutup yang menegaskan kesempurnaan agama Islam:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.”
— QS. Al-Ma'idah: 3
9.2 Sakitnya Rasulullah ﷺ
Sekembalinya dari Haji Wada', beberapa bulan kemudian, tepatnya setelah kepulangan dari pemakaman jenazah di Baqi' pada suatu malam, Nabi ﷺ jatuh sakit dengan demam tinggi dan sakit kepala yang berlangsung sekitar 13-14 hari.
Sebelum sakitnya memburuk, beliau sempat memerintahkan pembentukan pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid — pemuda berusia sekitar 18 tahun, putra Zaid bin Haritsah — untuk dikirim ke perbatasan Syam, sebuah keputusan yang menunjukkan kepercayaan besar beliau terhadap generasi muda meski sebagian sahabat senior sempat mempertanyakannya.
Selama sakit, Nabi ﷺ dirawat secara bergantian di rumah istri-istri beliau, hingga suatu ketika beliau meminta izin kepada seluruh istrinya untuk dirawat khusus di rumah 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dan mereka pun mengizinkan dengan penuh pengertian. Beliau tetap berusaha memimpin shalat berjamaah meski dalam kondisi lemah, hingga ketika tidak mampu lagi berjalan ke masjid, beliau menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengimami shalat menggantikannya — sebuah isyarat yang kelak dipahami para sahabat sebagai petunjuk kepemimpinan pengganti beliau, dan menjadi salah satu dalil utama pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pertama.
Pada hari-hari terakhir, Nabi ﷺ sempat keluar dengan dipapah 'Ali bin Abi Thalib dan Al-'Abbas menuju masjid untuk menyampaikan pesan terakhir kepada kaum Muslimin, memperingatkan mereka dari sikap berlebihan terhadap kuburan para nabi sebagaimana dilakukan Yahudi dan Nasrani, serta memerintahkan agar seluruh pintu rumah sahabat yang menghadap ke masjid ditutup kecuali pintu rumah Abu Bakar — sebuah isyarat lain yang dipahami para sahabat.
Dalam salah satu khutbah terakhirnya, beliau menyampaikan kalimat yang sekilas tampak umum namun ditangkap maknanya secara tajam oleh Abu Bakar:
إِنَّ عَبْدًا خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ أَنْ يُؤْتِيَهُ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا مَا شَاءَ وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ، فَاخْتَارَ مَا عِنْدَهُ
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang Allah beri pilihan antara diberikan kepadanya gemerlap dunia sesukanya, atau (memilih) apa yang ada di sisi-Nya; maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya.”
— HR. Al-Bukhari, no. 3904 dan Muslim, no. 2382
Mendengar ini, Abu Bakar menangis tersedu hingga sebagian sahabat keheranan — mengapa ia menangisi kisah seorang hamba yang diberi pilihan? Baru kemudian mereka memahami bahwa "hamba yang diberi pilihan" itu adalah Rasulullah ﷺ sendiri, dan tangisan Abu Bakar lahir dari kepekaannya menangkap isyarat perpisahan. Dalam momen yang sama, Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling berjasa kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Andai aku boleh mengambil seorang khalil (kekasih terdekat) selain Tuhanku, niscaya aku memilih Abu Bakar."
Di saat-saat terakhir, 'Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berulang kali mencelupkan tangannya ke bejana berisi air dan mengusap wajahnya seraya bersabda:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ
“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya kematian itu memiliki masa-masa sekarat yang berat.”
— HR. Al-Bukhari, no. 4446
9.3 Wafatnya Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awwal tahun 11 Hijriyyah (8 Juni 632 M), dalam usia 63 tahun, di rumah 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dengan kepala beliau berada di pangkuannya. Detik-detik terakhir, beliau mengangkat jari dan mengucapkan:
بَلِ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى
“(Ya Allah, aku memilih) kekasih yang tertinggi (surga bersama para nabi dan rasul).”
— HR. Al-Bukhari, no. 4463 dan Muslim, no. 2444
Berita wafatnya Nabi ﷺ mengguncang kaum Muslimin. 'Umar bin Al-Khaththab yang begitu mencintai beliau sempat menolak percaya dan mengancam siapa pun yang mengatakan Nabi ﷺ telah wafat. Namun Abu Bakar Ash-Shiddiq tampil dengan ketenangan iman yang luar biasa, menegaskan kepada kaum Muslimin:
مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ
“Barang siapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Namun barang siapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”
Kemudian Abu Bakar membacakan ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?”
— QS. Ali 'Imran: 144
Riwayat menyebutkan bahwa seolah-olah kaum Muslimin baru mendengar ayat ini untuk pertama kalinya, karena ketenangan yang dibawakan Abu Bakar meredakan keguncangan mereka; 'Umar bin Al-Khaththab sendiri kelak mengaku bahwa kedua kakinya lemas tak mampu menopang tubuhnya saat mendengar ayat tersebut dibacakan.
Di tengah keguncangan ini, kaum Anshar sempat berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah untuk bermusyawarah mengenai kepemimpinan setelah Nabi ﷺ, sebelum akhirnya disepakati bersama kaum Muhajirin bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq — sahabat terdekat, teman gua Nabi ﷺ, dan imam shalat pengganti beliau di masa sakit — dibaiat sebagai khalifah pertama, menunjukkan kematangan sistem musyawarah yang telah dibangun Nabi ﷺ selama masa hidupnya.
Jenazah Nabi ﷺ dimandikan oleh keluarga terdekat beliau — 'Ali bin Abi Thalib, Al-'Abbas, dan putra-putra Al-'Abbas — tanpa dilepas pakaiannya, sesuai petunjuk yang didengar sebagian sahabat dalam keadaan setengah tidur. Jenazah beliau kemudian dishalatkan oleh kaum Muslimin secara bergantian dalam kelompok-kelompok kecil tanpa imam tunggal, sebagai penghormatan khusus bahwa tidak ada seorang pun yang layak mengimami shalat jenazah bagi pemimpin para nabi.
Setelah proses ini berlangsung selama beberapa hari, Rasulullah ﷺ kemudian dimakamkan tepat di lokasi wafatnya, di kamar 'Aisyah radhiyallahu 'anha, sesuai sabda beliau bahwa para nabi dimakamkan di tempat mereka wafat. Kamar ini kini menjadi bagian dari kompleks Masjid Nabawi di Madinah, tempat beliau bersemayam berdampingan dengan dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan 'Umar bin Al-Khaththab, hingga hari ini.