Sirah Nabawiyah · Bagian IV · Periode Makkah
Turunnya Wahyu dan Dakwah Sembunyi-Sembunyi
Iqra' di Gua Hira' hingga Dar Al-Arqam
Wahyu pertama di Gua Hira', masa fatrah, macam-macam cara turunnya wahyu, dan tiga tahun dakwah rahasia bersama As-Sabiqun Al-Awwalun.
4.1 Wahyu Pertama
Pada malam 17 Ramadhan (dikenal sebagai Nuzulul Qur'an) tahun ke-40 dari kelahiran Nabi ﷺ (sekitar tahun 610 M), ketika beliau berada di Gua Hira', datanglah Malaikat Jibril 'alaihissalam membawa wahyu pertama. 'Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan peristiwa ini secara rinci:
فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ: اقْرَأْ. قَالَ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ. قَالَ: فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ: اقْرَأْ. قُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ
“Malaikat itu mendatanginya seraya berkata: "Bacalah!" Nabi ﷺ menjawab: "Aku tidak bisa membaca." Nabi ﷺ bersabda: "Maka malaikat itu memegangku dan mendekapku hingga aku merasa sangat payah, kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi: Bacalah! Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca..."”
— HR. Al-Bukhari, no. 3 dan Muslim, no. 160
Peristiwa ini berulang hingga tiga kali, hingga akhirnya Jibril membacakan ayat-ayat pertama Al-Qur'an:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
— QS. Al-'Alaq: 1-5
Dengan gemetar dan penuh ketakutan, Nabi ﷺ pulang menemui Khadijah seraya berkata, "Selimuti aku, selimuti aku!" (Zammiluni, zammiluni). Setelah rasa takutnya mereda, beliau menceritakan apa yang dialaminya kepada Khadijah, dan berkata, "Sungguh aku mengkhawatirkan diriku." Khadijah, dengan kebijaksanaan dan keimanan yang luar biasa, menghiburnya dengan perkataan yang masyhur:
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, menanggung beban orang yang lemah, memberi kepada orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah dalam menegakkan kebenaran.”
— HR. Al-Bukhari, no. 3
Khadijah kemudian mengajak Nabi ﷺ menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang yang telah memeluk Nasrani dan mengetahui kitab-kitab terdahulu. Waraqah menegaskan bahwa yang datang kepada Muhammad adalah malaikat yang sama yang pernah turun kepada Nabi Musa 'alaihissalam (An-Namus Al-Akbar), dan meramalkan bahwa kaumnya kelak akan mengusirnya.
4.2 Terputusnya Wahyu (Fatrah) dan Turunnya Wahyu Kedua
Setelah wahyu pertama, terjadi jeda (fatrah) beberapa waktu sebelum wahyu berikutnya turun, yang membuat Nabi ﷺ gelisah. Kemudian turunlah surat Al-Muddatstsir yang menandai dimulainya perintah dakwah secara resmi:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah!”
— QS. Al-Muddatstsir: 1-3
4.3 Macam-Macam Cara Turunnya Wahyu
Sebelum melanjutkan kisah dakwah, penting dipahami bagaimana wahyu turun kepada Nabi ﷺ, karena hal ini menjadi fondasi keotentikan seluruh risalah. Al-Harits bin Hisyam radhiyallahu 'anhu pernah bertanya langsung kepada beliau tentang hal ini, dan beliau menjawab:
أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ
“Terkadang wahyu datang kepadaku seperti gemerincing lonceng, dan itu yang paling berat bagiku, lalu terhenti dariku dan aku telah memahami apa yang disampaikannya. Dan terkadang malaikat menjelma di hadapanku sebagai seorang laki-laki, lalu berbicara kepadaku dan aku memahami apa yang dikatakannya.”
— HR. Al-Bukhari, no. 2
'Aisyah radhiyallahu 'anha menambahkan bahwa ketika wahyu turun pada hari yang sangat dingin sekalipun, dahi beliau bercucuran keringat karena beratnya menerima wahyu — sesuai firman Allah, "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat" (QS. Al-Muzzammil: 5).
Para ulama, di antaranya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zaad Al-Ma'ad, merangkum tingkatan-tingkatan wahyu yang meliputi:
- Mimpi yang benar (ar-ru'ya ash-shadiqah) yang menjadi permulaan wahyu selama enam bulan.
- Bisikan yang ditiupkan ke dalam hati.
- Malaikat menjelma sebagai laki-laki (sering kali dalam rupa sahabat bernama Dihyah Al-Kalbi).
- Wahyu seperti gemerincing lonceng.
- Jibril menampakkan wujud aslinya (terjadi dua kali, sebagaimana QS. An-Najm: 13-18).
- Firman Allah secara langsung dari balik hijab sebagaimana pada malam Mi'raj.
Kesaksian fisik para sahabat terhadap kondisi beliau saat menerima wahyu — perubahan wajah, beratnya tubuh hingga hampir meremukkan paha sahabat yang menjadi sandarannya (sebagaimana dialami Zaid bin Tsabit), dan keringat bercucuran — menjadi bukti empiris yang menepis tuduhan bahwa wahyu hanyalah imajinasi atau karangan pribadi.
4.4 Dakwah Sembunyi-Sembunyi (Marhalah As-Sirriyyah)
Selama tiga tahun pertama, dakwah dilakukan secara diam-diam, terbatas pada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat karib yang dapat dipercaya, mengingat kondisi Makkah yang sangat kuat memegang tradisi penyembahan berhala nenek moyang. Orang-orang pertama yang memeluk Islam (As-Sabiqun Al-Awwalun) adalah:
- Khadijah binti Khuwailid, istri beliau — wanita pertama yang beriman, tanpa keraguan sedikit pun.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat karib beliau sejak masa Jahiliyyah — laki-laki dewasa merdeka pertama yang beriman, yang langsung membenarkan tanpa meminta bukti apa pun.
- 'Ali bin Abi Thalib, sepupu beliau yang saat itu masih kanak-kanak berusia sekitar 10 tahun — dari kalangan anak-anak.
- Zaid bin Haritsah, budak yang kemudian diangkat sebagai anak oleh Nabi ﷺ — dari kalangan budak, dan tetap memilih bersama Nabi ﷺ meski ayah kandungnya datang menawarkan tebusan untuk membawanya pulang.
Melalui dakwah Abu Bakar yang dikenal disegani dan dipercaya kaumnya karena keahliannya dalam ilmu nasab dan perniagaan, beberapa tokoh penting memeluk Islam, di antaranya 'Utsman bin 'Affan (kelak menantu Nabi ﷺ, dijuluki Dzun Nurain karena menikahi dua putri beliau secara berurutan), Az-Zubair bin Al-'Awwam, 'Abdurrahman bin 'Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash (yang doanya kelak masyhur mustajab), Thalhah bin 'Ubaidillah, Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah (yang kelak digelari Aminul Ummah), 'Utsman bin Mazh'un, dan Al-Arqam bin Abi Al-Arqam.
Catatan: Delapan nama pertama ini kelak menjadi bagian dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (Al-'Asyarah Al-Mubasysyarun bil Jannah), bersama 'Umar bin Al-Khaththab dan Sa'id bin Zaid yang masuk Islam belakangan.
Rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam di kaki Bukit Shafa, dikenal sebagai Dar Al-Arqam, dijadikan pusat pertemuan rahasia kaum Muslimin — tempat Nabi ﷺ mengajarkan Al-Qur'an, membina akidah, dan menerima orang-orang yang hendak masuk Islam, jauh dari pengawasan Quraisy.
Selama periode ini pula, sejumlah sahabat dari kalangan lemah dan budak turut memeluk Islam, seperti Bilal bin Rabah (budak Habasyah), Khabbab bin Al-Aratt, 'Ammar bin Yasir sekeluarga, dan Shuhaib Ar-Rumi, yang kelak menjadi simbol kesetaraan dalam Islam tanpa memandang suku, status sosial, atau warna kulit.