Sirah Nabawiyah · Bagian III · Pra-Kenabian
Masa Muda hingga Pernikahan
Al-Amin, Khadijah, dan tahannuts di Gua Hira'
Masa menggembala, perjalanan dagang ke Syam, Hilful Fudhul, julukan Al-Amin, pernikahan dengan Khadijah, hingga kebiasaan menyendiri di Gua Hira' menjelang kenabian.
3.1 Masa Menggembala dan Perjalanan Dagang ke Syam
Sebagaimana kebiasaan anak-anak Makkah pada masanya, Muhammad kecil turut menggembalakan kambing, baik milik keluarganya maupun milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath, di bukit-bukit sekitar kota. Kelak beliau bersabda mengenang masa ini:
مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ رَعَى الْغَنَمَ
“"Tidak ada seorang nabi pun melainkan ia pernah menggembalakan kambing." Para sahabat bertanya, "Termasuk engkau wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, aku pun pernah menggembalakannya dengan upah beberapa qirath bagi penduduk Makkah."”
— HR. Al-Bukhari, no. 2262
Para ulama menjelaskan bahwa pengalaman menggembala ini melatih kesabaran, kelembutan, dan kepemimpinan — sifat-sifat yang kelak sangat dibutuhkan dalam mengemban risalah kenabian dan memimpin umat.
Dalam asuhan Abu Thalib, Muhammad muda turut serta dalam kafilah dagang menuju Syam. Riwayat masyhur (meski sanadnya diperselisihkan sebagian muhaddits) menyebutkan bahwa dalam perjalanan ini, ketika Nabi ﷺ berusia sekitar dua belas tahun, seorang pendeta Nasrani bernama Bahira di Bushra (sebelah selatan Syam) mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad sesuai dengan yang tertulis dalam kitab-kitab sebelumnya — termasuk tanda kenabian (khatamun nubuwwah) di antara kedua pundaknya — dan mengundang seluruh rombongan untuk dijamu, sesuatu yang jarang ia lakukan. Bahira kemudian menasihati Abu Thalib agar segera membawa pulang keponakannya dan menjaganya dari ancaman orang-orang yang mungkin mengenali tanda tersebut serta bermaksud jahat kepadanya, sehingga Abu Thalib pun mempercepat kepulangan rombongan ke Makkah.
3.2 Perang Fijar dan Hilful Fudhul
Menjelang usia dua puluhan, Nabi ﷺ turut menyaksikan Perang Fijar, peperangan antar-suku Quraisy dan Kinanah melawan Qais 'Ailan, meski beliau hanya membantu mengumpulkan anak panah bagi paman-pamannya tanpa terlibat langsung dalam pertumpahan darah.
Beliau juga turut hadir dalam pembentukan Hilful Fudhul, sebuah perjanjian mulia antar-klan Quraisy untuk bersama-sama membela pihak yang teraniaya dan mengembalikan hak orang yang terzalimi, tanpa memandang status sosial. Rasulullah ﷺ kelak mengenang perjanjian ini dengan penuh penghargaan:
لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا لَوْ دُعِيتُ بِهِ فِي الْإِسْلَامِ لَأَجَبْتُ
“Sungguh aku pernah menyaksikan di rumah 'Abdullah bin Jud'an suatu perjanjian yang seandainya aku diajak untuk (perjanjian serupa) dalam Islam, niscaya aku akan memenuhinya.”
— HR. Ahmad dalam Musnadnya, dan Al-Baihaqi
3.3 Julukan Al-Amin
Sejak muda, Muhammad dikenal oleh masyarakat Quraisy dengan gelar Al-Amin (yang tepercaya) karena kejujuran, integritas, dan keandalannya dalam menjaga amanah — sebuah reputasi yang diakui bahkan oleh kaum yang kelak memusuhinya.
Ketika Ka'bah direnovasi akibat kerusakan struktur dan banjir, terjadi perselisihan antar-klan Quraisy mengenai siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad (Batu Hitam) ke tempatnya. Nabi Muhammad, yang saat itu berusia sekitar 35 tahun, diminta menjadi penengah. Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas sehelai kain, lalu meminta perwakilan setiap klan memegang ujung kain tersebut secara bersama-sama sehingga batu terangkat secara adil, kemudian beliau sendiri yang meletakkannya ke tempat semula — sebuah penyelesaian bijak yang mencegah pertumpahan darah antar-klan.
3.4 Pernikahan dengan Khadijah radhiyallahu 'anha
Reputasi kejujuran dan keandalan Muhammad terdengar oleh Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya di Makkah. Ia mempekerjakan Muhammad untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Perniagaan ini membuahkan keuntungan yang tidak biasa, dan pembantu Khadijah yang menyertai perjalanan, Maisarah, melaporkan akhlak mulia serta tanda-tanda keistimewaan yang disaksikannya pada diri Muhammad.
Terkesan dengan kejujuran dan akhlaknya, Khadijah — melalui sahabatnya, Nafisah binti Munabbih, sebagai perantara — menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Muhammad. Setelah bermusyawarah dengan paman-pamannya, lamaran ini diterima. Pernikahan ini berlangsung ketika Nabi ﷺ berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun, dengan mahar sekitar dua puluh ekor unta muda, sebagaimana disebutkan sebagian riwayat sirah.
Pernikahan ini menjadi salah satu pernikahan paling agung dalam sirah, karena Khadijah adalah istri pertama Nabi ﷺ dan menjadi orang pertama yang beriman kepadanya ketika wahyu pertama turun. Selama sekitar 25 tahun pernikahan, Nabi ﷺ tidak menikahi wanita lain selagi Khadijah masih hidup — sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki istri-istri beliau yang lain.
Dari pernikahan ini lahir enam orang anak: dua putra, Al-Qasim dan 'Abdullah (yang juga digelari Ath-Thayyib dan Ath-Thahir), keduanya wafat pada usia kanak-kanak; serta empat putri, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah radhiyallahu 'anha — putri bungsu yang paling masyhur karena kedekatannya dengan Nabi ﷺ dan kelak menjadi istri 'Ali bin Abi Thalib.
Sebelum kenabian, Nabi ﷺ dan Khadijah juga mengasuh dua anak angkat: Zaid bin Haritsah, budak yang dihadiahkan Khadijah kepada beliau dan kemudian dimerdekakan serta diangkat sebagai anak, dan 'Ali bin Abi Thalib, sepupu beliau yang diasuh untuk meringankan beban ekonomi Abu Thalib.
Rasulullah ﷺ senantiasa mengenang jasa dan keutamaan Khadijah sepanjang hidupnya, bahkan setelah wafatnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang menceritakan kecemburuannya terhadap sosok Khadijah meski telah tiada — hingga Nabi ﷺ pernah menegurnya dengan bersabda bahwa Allah tidak menggantikan baginya wanita yang lebih baik dari Khadijah, karena Khadijah beriman kepadanya ketika manusia lain mengingkarinya, membenarkannya ketika manusia lain mendustakannya, dan membantunya dengan hartanya ketika manusia lain menghalanginya (HR. Ahmad, dengan makna serupa dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
3.5 Kehidupan Menjelang Kenabian: Tahannuts di Gua Hira'
Menjelang usia empat puluh tahun, Nabi Muhammad ﷺ mulai gemar menyendiri (tahannuts/tahannuf) untuk beribadah dan merenung di Gua Hira', sebuah gua di pegunungan dekat Makkah, menjauh dari kebisingan dan kerusakan moral masyarakat Jahiliyyah di sekitarnya. Beliau membawa bekal secukupnya dan menghabiskan waktu berhari-hari dalam ibadah dan perenungan, sebelum kembali ke Khadijah untuk mengambil bekal lagi.