Sirah Nabawiyah · Bagian V · Periode Makkah
Dakwah Terang-Terangan dan Penyiksaan Kaum Quraisy
Dari Bukit Shafa hingga Hijrah ke Madinah
Perintah dakwah terbuka, penyiksaan kaum Quraisy, hijrah ke Habasyah, Tahun Kesedihan, Isra' Mi'raj, Baiat 'Aqabah, hingga perjalanan hijrah ke Yatsrib.
5.1 Perintah Dakwah Terbuka
Setelah tiga tahun berdakwah secara sembunyi-sembunyi, turun perintah untuk berdakwah secara terang-terangan:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”
— QS. Al-Hijr: 94
Rasulullah ﷺ kemudian naik ke Bukit Shafa dan menyeru seluruh klan Quraisy, memperingatkan mereka akan azab Allah jika tidak beriman. Sebagian menerimanya, namun mayoritas menolak — termasuk pamannya sendiri, Abu Lahab, yang mengucapkan kata-kata penghinaan sehingga turun surat khusus yang mengecamnya:
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.”
— QS. Al-Masad: 1-2
Melihat dakwah semakin meluas, para pembesar Quraisy — dipimpin 'Utbah bin Rabi'ah — mendatangi Nabi ﷺ dan menawarkan berbagai bujukan agar beliau menghentikan dakwahnya: harta yang melimpah hingga menjadi orang terkaya di Makkah, kedudukan sebagai pemimpin mereka, pernikahan dengan wanita tercantik, atau pengobatan jika dianggap dirasuki jin. Nabi ﷺ menjawab seluruh tawaran itu dengan membacakan ayat-ayat awal surat Fushshilat, yang membuat 'Utbah tercengang dan pulang dengan wajah yang berubah, tanpa mampu membantah.
5.2 Reaksi dan Penyiksaan Kaum Quraisy
Dakwah tauhid yang mengancam kepentingan ekonomi (perdagangan berhala dan ritual haji) serta status sosial para pembesar Quraisy memicu penolakan keras. Berbagai bentuk perlawanan dilancarkan:
- Penghinaan dan ejekan terhadap Nabi ﷺ dan ajaran yang dibawanya.
- Penyiksaan fisik terhadap pengikutnya yang lemah dan tidak memiliki perlindungan klan, seperti Bilal bin Rabah yang dijemur di padang pasir dengan batu besar di dadanya oleh Umayyah bin Khalaf, namun tetap teguh mengucapkan "Ahad, Ahad" (Allah Maha Esa).
- Syuhada pertama dalam Islam: keluarga Yasir bin 'Amir, istrinya Sumayyah binti Khayyath, dan putra mereka 'Ammar bin Yasir disiksa oleh Abu Jahal. Sumayyah gugur sebagai syahidah pertama dalam Islam.
- Pemboikotan total terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib (termasuk yang belum beriman) selama sekitar tiga tahun di lembah Syi'ib Abi Thalib — dilarang berdagang, menikah, atau berinteraksi dengan klan lain — hingga sebagian dari mereka terpaksa memakan dedaunan karena kelaparan.
Rasulullah ﷺ sendiri, karena dilindungi pamannya Abu Thalib dan status klannya, relatif lebih aman dari siksaan fisik langsung, namun terus-menerus menerima gangguan verbal dan fisik ringan, termasuk ketika beliau shalat di Ka'bah dan diletakkan kotoran unta di punggungnya oleh 'Uqbah bin Abi Mu'ith, hingga putrinya Fathimah datang membersihkannya sambil menangis.
Sahabat lain yang mengalami penyiksaan berat antara lain Khabbab bin Al-Aratt, seorang pandai besi, yang diseret di atas bara api hingga lemak punggungnya meleleh memadamkan api tersebut, namun ia tetap teguh dalam keislamannya. Ada pula Abu Fukaihah dan Zinnirah, budak yang disiksa hingga Zinnirah sempat kehilangan penglihatannya. Sebagian sahabat yang disiksa ditebus kebebasannya oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang mengorbankan hartanya untuk membeli dan memerdekakan budak-budak Muslim yang disiksa, termasuk Bilal bin Rabah.
Titik balik penting dalam periode ini adalah keislaman dua tokoh berpengaruh Quraisy: Hamzah bin 'Abdul Muththalib, paman Nabi ﷺ yang dikenal pemberani, masuk Islam setelah mendengar Abu Jahal menghina keponakannya, lalu ia langsung mendatangi Abu Jahal dan memukulnya dengan busur panah sambil menyatakan keislamannya secara terang-terangan.
Tak lama kemudian, 'Umar bin Al-Khaththab, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu penentang Islam paling keras, masuk Islam setelah membaca ayat-ayat awal surat Thaha yang dibacakan adiknya, Fathimah binti Al-Khaththab, dan suaminya. Keislaman 'Umar memberi kekuatan besar bagi kaum Muslimin, sehingga untuk pertama kalinya mereka berani melaksanakan shalat secara terang-terangan di Ka'bah — sebuah momentum yang membuat Ibnu Mas'ud berkata bahwa keislaman 'Umar adalah kemenangan (fath), hijrahnya adalah pertolongan (nashr), dan kepemimpinannya adalah rahmat.
5.3 Keislaman dari Luar Makkah: Abu Dzar dan Ath-Thufail
Meski Quraisy berusaha keras membendung dakwah, berita tentang kemunculan seorang nabi di Makkah menyebar hingga keluar kota, dan sebagian pencari kebenaran datang atas inisiatif sendiri. Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, dari suku Ghifar yang terkenal sebagai penyamun jalur kafilah, mengutus saudaranya menyelidiki kabar tersebut lalu berangkat sendiri ke Makkah.
Setelah beberapa hari mengamati dengan hati-hati tanpa berani bertanya terang-terangan — karena bahayanya situasi — ia dipertemukan dengan Nabi ﷺ melalui 'Ali bin Abi Thalib, dan langsung menyatakan keislamannya. Bukan hanya itu, dengan keberanian khasnya ia justru mengumumkan keislamannya secara lantang di depan Ka'bah hingga dipukuli kaum Quraisy sampai nyaris tewas, diselamatkan oleh Al-'Abbas yang mengingatkan Quraisy bahwa suku Ghifar menguasai jalur dagang mereka ke Syam (HR. Al-Bukhari, no. 3522 dan Shahih Muslim). Nabi ﷺ kemudian memerintahkannya kembali kepada kaumnya hingga tiba masanya berhijrah — dan melalui dakwahnya, suku Ghifar dan Aslam kemudian masuk Islam.
Adapun Ath-Thufail bin 'Amr Ad-Dausi, pemuka suku Daus dari wilayah Yaman sekaligus penyair terpandang, datang ke Makkah dan langsung diperingatkan kaum Quraisy agar tidak mendengarkan "penyihir" Muhammad, sampai-sampai ia menyumbat telinganya dengan kapas saat memasuki Masjidil Haram. Namun Allah menghendaki ia mendengar sebagian bacaan shalat Nabi ﷺ, dan sebagai ahli syair ia langsung mengenali bahwa itu bukanlah syair maupun sihir, lalu menemui beliau dan masuk Islam.
Ia kembali mendakwahi kaumnya, dan ketika sebagian besar menolak, ia meminta Nabi ﷺ mendoakan kebinasaan atas suku Daus. Namun beliau justru mengangkat tangan dan berdoa:
اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada suku Daus dan datangkanlah mereka (ke dalam Islam).”
— HR. Al-Bukhari, no. 2937 dan Muslim, no. 2524
Doa ini terkabul — suku Daus kemudian masuk Islam dan berhijrah, di antara mereka terdapat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Kedua kisah ini menggambarkan pola dakwah Nabi ﷺ yang mengutamakan hidayah, bukan kutukan, bahkan terhadap kaum yang menolaknya.
5.4 Tiga Pertanyaan Penguji Kenabian dan Asbabun Nuzul Surat Al-Kahfi
Dalam upaya membuktikan kepalsuan klaim kenabian Muhammad ﷺ, kaum Quraisy mengutus An-Nadhr bin Al-Harits dan 'Uqbah bin Abi Mu'ith menemui para pendeta Yahudi di Yatsrib — kaum yang dianggap paling mengetahui perkara kenabian. Para pendeta itu membekali mereka tiga pertanyaan penguji: tentang para pemuda yang menghilang di masa lampau (Ashabul Kahfi), tentang seorang penjelajah yang mencapai timur dan barat bumi (Dzul Qarnain), dan tentang hakikat ruh. Menurut mereka, jika Muhammad mampu menjawabnya, ia benar seorang nabi.
Ketika pertanyaan itu diajukan, Nabi ﷺ menjawab, "Aku akan jawab besok," tanpa mengucapkan insya Allah. Wahyu pun tertahan selama sekitar lima belas hari hingga beliau sangat gundah dan kaum Quraisy mulai mencemooh. Kemudian turunlah surat Al-Kahfi yang menjawab tuntas pertanyaan tentang Ashabul Kahfi dan Dzul Qarnain, disertai teguran lembut yang menjadi adab abadi bagi seluruh Muslim:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi," kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah."”
— QS. Al-Kahfi: 23-24
Adapun pertanyaan tentang ruh dijawab Allah dalam QS. Al-Isra': 85 dengan penegasan bahwa ruh adalah urusan Allah dan manusia hanya diberi ilmu yang sedikit — jawaban yang justru sesuai dengan kriteria kenabian dalam kitab para pendeta itu sendiri, sebab nabi yang benar tidak akan berpura-pura mengetahui segala hal melampaui yang diwahyukan kepadanya. Peristiwa ini dicatat para ahli tafsir sebagai salah satu asbabun nuzul paling penting periode Makkah, sekaligus menunjukkan interaksi dakwah lintas komunitas jauh sebelum hijrah.
5.5 Mukjizat Terbelahnya Bulan (Syaqqul Qamar)
Di tengah masa penolakan keras kaum Quraisy, para pembesar mereka pernah meminta Nabi ﷺ menunjukkan mukjizat sebagai bukti kenabian. Sebagaimana diriwayatkan oleh 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, penduduk Makkah menyaksikan bulan terbelah menjadi dua bagian yang terpisah jelas, hingga sebagian dari mereka dapat melihat Bukit Hira' berada di antara kedua belahannya. Peristiwa ini diabadikan Al-Qur'an:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ
“Telah dekat datangnya saat itu (hari kiamat) dan telah terbelah bulan.”
— QS. Al-Qamar: 1
Alih-alih beriman, kaum musyrikin Quraisy justru menuduh Muhammad telah menyihir mereka, dan mengirimkan orang untuk bertanya kepada para musafir yang baru tiba dari luar Makkah apakah mereka juga menyaksikan peristiwa yang sama — yang ternyata dibenarkan oleh para musafir tersebut, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik.
Catatan: Peristiwa ini menjadi salah satu mukjizat inderawi (hissiyah) yang disaksikan langsung secara massal, berbeda dengan mukjizat utama Nabi ﷺ yaitu Al-Qur'an yang bersifat mukjizat rasional (aqliyyah) yang berlaku sepanjang zaman.
5.6 Teguran Ilahi dalam Surat 'Abasa
Pada suatu ketika, Nabi ﷺ tengah sibuk berbicara dengan beberapa pembesar Quraisy, termasuk 'Utbah bin Rabi'ah dan Abu Jahal, dengan harapan besar mereka mau menerima Islam mengingat pengaruh mereka yang besar di tengah kaumnya. Di tengah pembicaraan itu, datanglah seorang sahabat buta bernama 'Abdullah bin Ummi Maktum yang berulang kali bertanya dan meminta diajarkan Al-Qur'an, tanpa menyadari Nabi ﷺ sedang berbicara dengan tamu penting. Nabi ﷺ sedikit berpaling dan bermuka masam karena terputusnya pembicaraan penting tersebut, meski tidak menghardiknya.
Allah kemudian menegur sikap ini secara langsung dan tegas melalui wahyu:
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.”
— QS. 'Abasa: 1-2
Sejak turunnya teguran ini, Nabi ﷺ senantiasa memuliakan 'Abdullah bin Ummi Maktum, bahkan menjadikannya salah satu muadzin di Madinah dan dua kali mempercayakannya sebagai pemimpin sementara Madinah ketika beliau bepergian. Setiap kali bertemu dengannya, Nabi ﷺ menyambutnya dengan penuh perhatian seraya berkata, "Selamat datang orang yang karenanya Tuhanku menegurku."
Catatan: Peristiwa ini menjadi bukti kuat keotentikan wahyu sebagai firman Allah yang independen dari kepentingan pribadi Nabi ﷺ — sebab tidak masuk akal seseorang yang mengarang sendiri kitab sucinya akan menuliskan teguran atas kesalahannya sendiri secara terbuka dan abadi dibaca umat manusia hingga akhir zaman.
5.7 Hijrah Pertama ke Habasyah (Ethiopia)
Melihat penderitaan para pengikutnya, Nabi ﷺ menganjurkan sebagian sahabat untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia), yang diperintah oleh Raja Najasyi (Negus), seorang Kristen yang dikenal adil. Rombongan pertama terdiri dari sekitar 11-15 orang, dipimpin oleh 'Utsman bin 'Affan dan istrinya Ruqayyah (putri Nabi ﷺ), kemudian disusul rombongan kedua yang lebih besar dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib.
Kaum Quraisy, gusar melihat para pengikut Nabi ﷺ mendapat perlindungan di negeri asing, mengutus dua orang diplomat ulung mereka, 'Amr bin Al-'Ash dan 'Abdullah bin Abi Rabi'ah, membawa hadiah-hadiah berharga untuk Najasyi dan para pembesarnya, meminta agar para muhajirin dikembalikan ke Makkah.
Ketika Najasyi memanggil para muhajirin untuk mengonfirmasi tuduhan 'Amr bin Al-'Ash bahwa mereka telah meninggalkan agama nenek moyang tanpa memeluk agama Najasyi, Ja'far bin Abi Thalib — sepupu Nabi ﷺ sekaligus juru bicara rombongan — tampil menyampaikan pidato masyhur di hadapan Najasyi yang menjelaskan kondisi Jahiliyyah sebelum Islam (penyembahan berhala, memakan bangkai, memutus silaturahmi, menzalimi yang lemah) serta ajaran mulia yang dibawa Islam (tauhid, kejujuran, silaturahmi, perlindungan terhadap yang lemah), termasuk membacakan ayat-ayat awal surat Maryam tentang kelahiran Nabi 'Isa 'alaihissalam.
Najasyi menangis mendengarnya hingga membasahi jenggotnya, para pendeta yang hadir turut menangis, dan ia menolak menyerahkan para muhajirin seraya berkata, "Pergilah kalian berdua (utusan Quraisy), demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka." Bahkan dikatakan dalam riwayat bahwa Najasyi kemudian memeluk Islam secara diam-diam, dan ketika ia wafat, Nabi ﷺ menshalatkan jenazahnya secara ghaib dari Madinah.
5.8 Tahun Kesedihan ('Aamul Huzn)
Pada tahun ke-10 kenabian, Nabi ﷺ kehilangan dua pendukung terbesarnya secara berurutan: pamannya Abu Thalib, yang selalu melindunginya meski tidak memeluk Islam, dan istrinya tercinta Khadijah radhiyallahu 'anha, penopang utama dakwah beliau baik secara moral maupun materiil. Tahun ini dikenal sebagai 'Aamul Huzn (Tahun Kesedihan).
Sepeninggal Abu Thalib, perlindungan klan terhadap Nabi ﷺ melemah, dan gangguan kaum Quraisy semakin menjadi. Beliau kemudian pergi ke Thaif untuk mengajak penduduknya kepada Islam, namun ditolak dengan penghinaan dan dilempari batu oleh anak-anak dan orang-orang bodoh di sana hingga kakinya berdarah. Dalam perjalanan pulang, Malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghimpitkan dua gunung kepada penduduk Thaif, namun Nabi ﷺ menolak dan berdoa:
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
— HR. Al-Bukhari, no. 3231 dan Muslim, no. 1795
5.9 Isra' dan Mi'raj
Di tengah kesedihan mendalam ini, Allah menghibur Nabi-Nya dengan perjalanan agung Isra' dan Mi'raj — perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem (Isra'), kemudian naik ke langit hingga Sidratul Muntaha (Mi'raj):
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
— QS. Al-Isra': 1
Perjalanan Isra' ditempuh dengan menunggangi Buraq, hewan tunggangan dari surga yang digambarkan dalam hadits lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari bighal, dengan langkah sejauh mata memandang. Sesampainya di Masjidil Aqsha, Nabi ﷺ menjadi imam shalat bagi seluruh ruh para nabi terdahulu — sebuah isyarat bahwa beliau adalah penutup dan pemimpin para nabi.
Dalam perjalanan Mi'raj, Nabi ﷺ menembus tujuh lapis langit dan bertemu dengan para nabi terdahulu di setiap lapisnya: Nabi Adam 'alaihissalam di langit pertama, Nabi 'Isa dan Yahya 'alaihimassalam di langit kedua, Nabi Yusuf 'alaihissalam di langit ketiga, Nabi Idris 'alaihissalam di langit keempat, Nabi Harun 'alaihissalam di langit kelima, Nabi Musa 'alaihissalam di langit keenam, dan Nabi Ibrahim 'alaihissalam di langit ketujuh, sebelum akhirnya mencapai Sidratul Muntaha, batas akhir yang dapat dicapai makhluk.
Di tempat inilah Nabi ﷺ menerima perintah shalat lima puluh waktu sehari semalam secara langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala — sebuah kewajiban yang tidak diturunkan melalui perantaraan wahyu tertulis sebagaimana ibadah lainnya, menunjukkan kedudukan istimewa shalat dalam Islam. Dalam perjalanan turun, Nabi Musa 'alaihissalam berulang kali menyarankan Nabi ﷺ untuk kembali memohon keringanan kepada Allah, karena beliau tahu betapa beratnya kewajiban tersebut bagi umat manusia berdasarkan pengalamannya bersama Bani Israil. Melalui permohonan berulang ini, jumlah shalat akhirnya diringankan secara bertahap dari lima puluh menjadi lima waktu, namun tetap bernilai pahala lima puluh waktu di sisi Allah (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).
Peristiwa ini juga menjadi ujian keimanan bagi kaum muslimin. Ketika kaum musyrikin Quraisy mencemooh kisah ini sebagai sesuatu yang mustahil, sebagian orang yang imannya lemah kembali murtad. Namun Abu Bakar Ash-Shiddiq membenarkannya tanpa keraguan sedikit pun begitu mendengar kabar tersebut, bahkan menantang balik kaum Quraisy dengan berkata bahwa jika Muhammad sendiri yang mengatakannya, maka pasti benar — sebab beliau mempercayai berita wahyu dari langit datang kepadanya setiap hari, apalagi hanya perjalanan ke Baitul Maqdis. Karena keteguhan ini, beliau mendapat gelar "Ash-Shiddiq" (yang senantiasa membenarkan).
Sebagai bukti tambahan, Nabi ﷺ juga menyebutkan ciri-ciri kafilah dagang Quraisy yang berpapasan dengannya dalam perjalanan tersebut, yang kemudian terbukti benar sesuai jadwal kedatangan kafilah itu ke Makkah.
5.10 Baiat 'Aqabah dan Persiapan Hijrah
Setelah dakwah di Makkah menemui jalan buntu dan penduduk Thaif menolak keras, Nabi ﷺ tidak putus asa. Beliau mulai mendatangi kemah-kemah suku yang datang berhaji dari luar Makkah pada musim haji, menawarkan Islam kepada mereka satu per satu, meski sebagian besar menolak — bahkan sebagian menghina — karena kekhawatiran akan permusuhan dengan Quraisy yang berpengaruh dalam perdagangan mereka.
Di tengah penolakan ini, beberapa orang dari suku Aus dan Khazraj di Yatsrib (Madinah), yang sebelumnya telah mengenal nubuwat tentang kedatangan seorang nabi dari komunitas Yahudi di kota mereka, menerima dakwah beliau dengan antusias, berharap kehadiran Nabi ﷺ dapat pula menyatukan kedua suku mereka yang telah lama berseteru. Pertemuan ini berkembang menjadi dua perjanjian penting di bukit 'Aqabah, dekat Mina:
- Baiat 'Aqabah Pertama (tahun ke-12 kenabian): 12 orang dari Yatsrib berjanji setia untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak berbuat dusta, dan taat kepada Nabi ﷺ dalam kebaikan — dikenal sebagai Baiat An-Nisa'. Nabi ﷺ kemudian mengutus Mush'ab bin 'Umair untuk mengajarkan Al-Qur'an dan Islam kepada penduduk Yatsrib, yang berhasil mengislamkan banyak tokoh penting termasuk Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair, pemuka suku Aus.
- Baiat 'Aqabah Kedua (tahun ke-13 kenabian): sekitar 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan dari Yatsrib datang secara diam-diam pada malam hari dan berjanji untuk melindungi Nabi ﷺ sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka sendiri, bahkan bersedia berperang membelanya. Paman Nabi ﷺ, Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib (yang saat itu belum masuk Islam), turut hadir memastikan keseriusan komitmen mereka. Setelah baiat ini disepakati, Nabi ﷺ memilih dua belas orang sebagai naqib (pemimpin/wakil) dari kalangan mereka.
Setelah baiat ini, Nabi ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk berhijrah secara bertahap ke Yatsrib, sementara kaum Quraisy — menyadari ancaman berkembangnya kekuatan Islam di luar Makkah — merencanakan pembunuhan terhadap Nabi ﷺ dengan melibatkan perwakilan dari setiap klan agar tanggung jawab darahnya terbagi dan Bani Hasyim tidak mampu membalas.
5.11 Hijrah ke Madinah
Allah memberitahukan rencana pembunuhan tersebut kepada Nabi-Nya. Pada malam yang direncanakan, Nabi ﷺ meminta 'Ali bin Abi Thalib untuk tidur di ranjangnya guna mengelabui para pembunuh serta mengembalikan barang-barang titipan orang Quraisy yang selama ini dipercayakan kepada beliau (menunjukkan bahwa gelar Al-Amin tetap melekat meski beliau dimusuhi). Nabi ﷺ kemudian keluar diam-diam bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq, bersembunyi selama tiga hari di Gua Tsur sebelum melanjutkan perjalanan ke Yatsrib.
Ketika para pengejar Quraisy hampir menemukan mereka di mulut gua, Abu Bakar merasa cemas, namun Nabi ﷺ menenangkannya dengan perkataan yang diabadikan dalam Al-Qur'an:
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“...ketika dia (Muhammad) berkata kepada temannya (Abu Bakar): "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."”
— QS. At-Taubah: 40
Kaum Quraisy mengumumkan sayembara hadiah 100 ekor unta bagi siapa saja yang berhasil menangkap Nabi ﷺ hidup atau mati. Tergiur hadiah ini, seorang penunggang kuda bernama Suraqah bin Malik mengejar rombongan Nabi ﷺ dan Abu Bakar setelah keduanya keluar dari Gua Tsur. Ketika Suraqah hampir menyusul, kaki-kaki kudanya tiba-tiba terperosok ke dalam pasir hingga ke lutut, berulang hingga tiga kali setiap kali ia mendekat. Menyadari ada perlindungan ilahi terhadap Muhammad, Suraqah meminta jaminan keamanan, dan sebagai balasannya Nabi ﷺ menjanjikan kelak Suraqah akan mengenakan gelang kekaisaran Kisra Persia — sebuah nubuat yang benar-benar terwujud bertahun-tahun kemudian pada masa kekhalifahan 'Umar bin Al-Khaththab setelah penaklukan Persia.
Setelah delapan hari perjalanan menyusuri jalur yang tidak lazim untuk mengecoh pengejar, Nabi ﷺ tiba di Quba', pinggiran Yatsrib, pada hari Senin. Di sana beliau tinggal selama beberapa hari dan mendirikan masjid pertama dalam Islam (Masjid Quba'), yang disebut Al-Qur'an sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama (QS. At-Taubah: 108).
Penduduk Yatsrib menyambut kedatangan beliau dengan penuh sukacita, sebagian bersenandung syair sambutan yang masyhur, Thala'al badru 'alaina (Telah terbit bulan purnama atas kami). Beliau kemudian melanjutkan perjalanan dengan menunggangi untanya, Al-Qashwa', membiarkan unta itu berjalan bebas hingga berhenti dengan sendirinya di sebuah lahan milik dua anak yatim yang kelak menjadi lokasi Masjid Nabawi, menandai tempat menetapnya beliau di Yatsrib yang sejak saat itu berganti nama menjadi Madinah An-Nabawiyyah (Kota Nabi).
Catatan: Peristiwa hijrah ini terjadi pada bulan Rabi'ul Awwal tahun 622 M, dan kelak dijadikan 'Umar bin Al-Khaththab sebagai awal penanggalan Hijriyyah atas usulan 'Ali bin Abi Thalib, dengan bulan Muharram sebagai bulan pertama tahun Hijriyyah.