TEMANI

Sirah Nabawiyah · Pembuka · Pengantar

Muqaddimah & Urgensi Sirah

Metodologi penulisan dan mengapa sirah wajib dipelajari

Sumber-sumber muktabar yang menjadi rujukan penulisan sirah ini, serta alasan mengapa mempelajari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ adalah bagian dari perintah agama.

0.1 Muqaddimah dan Metodologi Penulisan

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

Tulisan ini disusun berdasarkan sumber-sumber sirah yang muktabar (kredibel) dan diakui secara luas dalam tradisi keilmuan Islam, di antaranya:

  1. As-Sirah An-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam (w. 218 H), yang merupakan penyuntingan atas sirah Ibnu Ishaq (w. 151 H) — rujukan sirah tertua dan paling otoritatif.
  2. Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dua kitab hadits paling shahih dalam Islam, yang memuat riwayat-riwayat sirah dengan sanad yang ketat.
  3. Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir (w. 774 H), yang menggabungkan riwayat sirah dengan tafsir dan sejarah.
  4. Zaad Al-Ma'ad fi Hadyi Khairil 'Ibad karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (w. 751 H).
  5. Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, yang memenangkan penghargaan Rabithah 'Alam Islami sebagai karya sirah terbaik pada tahun 1979.
  6. Tarikh Ath-Thabari karya Ibnu Jarir Ath-Thabari.
  7. Al-Qur'an Al-Karim sebagai sumber utama yang ma'shum (terjaga dari kesalahan), khususnya ayat-ayat yang berkaitan langsung dengan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Nabi ﷺ.

Penulisan ini secara sengaja tidak merujuk pada karya-karya orientalis yang menafsirkan wahyu, mukjizat, dan kepribadian Nabi ﷺ dengan kerangka skeptisisme sekuler atau prasangka permusuhan terhadap Islam. Sumber yang digunakan adalah sumber internal tradisi Islam yang telah melalui proses verifikasi sanad (ilmu isnad) yang ketat — sebuah metodologi keilmuan yang unik dimiliki peradaban Islam dan tidak tertandingi oleh tradisi historiografi lain di zamannya.

Catatan: Setiap peristiwa penting disertai kutipan ayat Al-Qur'an dan/atau hadits dalam bahasa Arab beserta terjemahannya, agar pembaca dapat merujuk langsung kepada teks aslinya.

0.2 Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyyah

Mempelajari sirah bukanlah sekadar membaca kisah sejarah, melainkan bagian dari perintah agama itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan pribadi Rasulullah ﷺ sebagai teladan yang wajib dicontoh:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

— QS. Al-Ahzab: 21

Meneladani beliau mustahil dilakukan tanpa mengenal perjalanan hidupnya secara utuh. Karena itulah generasi salaf memberikan perhatian besar terhadap sirah; 'Ali bin Al-Husain Zainal 'Abidin rahimahullah berkata, "Kami diajarkan maghazi (peperangan) Nabi ﷺ sebagaimana kami diajarkan surat dari Al-Qur'an."

Di antara faedah utama mempelajari sirah adalah:

  • Memahami konteks turunnya ayat-ayat Al-Qur'an (asbabun nuzul) sehingga tafsirnya menjadi tepat.
  • Menumbuhkan kecintaan kepada beliau yang merupakan bagian dari kesempurnaan iman.
  • Mengambil teladan praktis dalam seluruh peran kehidupan — sebagai pribadi, suami, ayah, pemimpin, pendidik, hakim, dan panglima.
  • Meneguhkan hati di kala ujian, sebagaimana Allah sendiri menyebutkan fungsi kisah para rasul.

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.”

— QS. Hud: 120