TEMANI

Sirah Nabawiyah · Bagian I · Pra-Kenabian

Jazirah Arab Sebelum Kedatangan Islam

Masa Jahiliyyah

Asal-usul Makkah dari Nabi Ibrahim hingga Qushay bin Kilab, kondisi geografis, sosial, politik, dan keagamaan Jazirah Arab menjelang kelahiran Nabi ﷺ.

1.1 Asal-Usul Makkah: Dari Nabi Ibrahim hingga Qushay bin Kilab

Sejarah Makkah tidak dapat dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang atas perintah Allah meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayi mereka, Ismail, di sebuah lembah tandus tanpa tanaman dan penghuni. Ketika bekal air habis dan Hajar berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali mencari pertolongan — perjalanan yang kelak diabadikan sebagai ritual sa'i dalam ibadah haji dan umrah — Allah memancarkan mata air Zamzam dari bawah kaki Ismail kecil melalui perantaraan Malaikat Jibril, sebagaimana diriwayatkan panjang lebar dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Nabi Ibrahim sendiri mengabadikan doanya bagi lembah ini dalam Al-Qur'an:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

— QS. Ibrahim: 37

Keberadaan air Zamzam menarik suku Jurhum dari Yaman untuk menetap di lembah tersebut. Ismail tumbuh dewasa di tengah mereka, menikahi wanita Jurhum, dan mempelajari bahasa Arab dari mereka, sehingga keturunannya dikenal sebagai Al-'Arab Al-Musta'ribah (Arab yang terarabkan). Dari garis keturunan inilah — melalui 'Adnan — nasab Nabi Muhammad ﷺ bersambung kepada Nabi Ismail 'alaihissalam.

Berabad-abad kemudian, pengelolaan Makkah berpindah dari Jurhum kepada suku Khuza'ah — pada masa merekalah pemimpin bernama 'Amr bin Luhay Al-Khuza'i pertama kali memasukkan berhala (Hubal) ke Ka'bah dari Syam, sehingga Nabi ﷺ kelak menyebutnya dalam hadits shahih sebagai orang pertama yang mengubah agama Ibrahim.

Baru pada sekitar abad kelima Masehi, Qushay bin Kilab — kakek keempat Nabi ﷺ — berhasil menyatukan klan-klan Quraisy yang tercerai-berai, merebut kembali kepemimpinan Makkah, membangun Darun Nadwah (balai musyawarah pertama Quraisy), dan menata pembagian tugas pelayanan Ka'bah dan jamaah haji yang kelak diwariskan kepada anak cucunya. Dari sinilah struktur kehormatan klan-klan Quraisy yang dijumpai pada masa Nabi ﷺ berasal.

1.2 Kondisi Geografis dan Posisi Makkah

Jazirah Arab terletak di persimpangan tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa, dikelilingi oleh Laut Merah di barat, Teluk Persia dan Laut Arab di timur dan selatan, serta padang pasir luas yang menjadikannya sulit ditembus oleh kekuatan-kekuatan besar di sekitarnya seperti Romawi (Bizantium) dan Persia (Sassaniyah).

Kota Makkah menempati posisi strategis di jalur perdagangan yang menghubungkan Yaman di selatan dengan Syam (Suriah) di utara. Suku Quraisy, penguasa Makkah, membangun kemakmuran mereka melalui dua kafilah dagang musiman: perjalanan musim dingin ke Yaman dan perjalanan musim panas ke Syam, sebagaimana diabadikan Al-Qur'an dalam surat khusus:

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ ۝ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.”

— QS. Quraisy: 1-2

Selain jalur dagang, Makkah juga menjadi pusat spiritual dan ekonomi tahunan berkat penyelenggaraan ibadah haji dan pasar-pasar musiman seperti Pasar 'Ukaz, Majannah, dan Dzul Majaz, yang menjadi ajang pertemuan suku-suku dari seluruh penjuru Jazirah, tempat berlangsungnya perniagaan sekaligus perlombaan syair. Bangsa Arab juga mengenal empat bulan haram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) di mana peperangan dihentikan sementara, sehingga perdagangan dan ibadah dapat berlangsung dengan aman.

Di tengah kota Makkah berdiri Ka'bah, bangunan yang menurut riwayat dibangun oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam bersama putranya Nabi Ismail 'alaihissalam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."”

— QS. Al-Baqarah: 127

Kedudukan Ka'bah sebagai pusat ibadah tahunan bagi seluruh suku Arab menjadikan Makkah sebagai kota suci yang dihormati, sehingga penduduknya relatif aman dari serangan suku-suku lain — sebuah keistimewaan yang disebut Al-Qur'an sebagai "al-balad al-amin" (negeri yang aman).

Suku Quraisy sendiri terbagi ke dalam berbagai klan besar seperti Bani Hasyim, Bani Umayyah, Bani Makhzum, Bani Zuhrah, Bani 'Adi, dan Bani Taim, yang masing-masing memiliki peran dan kehormatan tersendiri dalam mengurus Ka'bah dan jamaah haji — di antaranya siqayah (pengairan), rifadah (penjamuan), hijabah (penjagaan kunci Ka'bah), dan liwa' (panji perang).

1.3 Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Budaya Masyarakat Jahiliyyah

Istilah "Jahiliyyah" tidak semata-mata berarti "kebodohan" dalam pengertian intelektual — masyarakat Arab pra-Islam memiliki tradisi syair yang sangat tinggi dan dijunjung sebagai puncak kebanggaan budaya. Syair-syair terbaik yang memenangkan perlombaan di Pasar 'Ukaz digantungkan di dinding Ka'bah dan dikenal sebagai Al-Mu'allaqat, karya penyair-penyair besar seperti Imru' Al-Qais, Zuhair bin Abi Sulma, Antarah bin Syaddad, dan Labid bin Rabi'ah. Masyarakat ini juga memiliki sistem nasab yang dijaga secara ketat turun-temurun, dan kecakapan berdagang lintas benua.

Istilah "Jahiliyyah" dalam Al-Qur'an dan Sunnah merujuk pada kebodohan dalam hal akidah dan nilai-nilai moral fundamental, di antaranya:

  • Penyembahan berhala: Ka'bah pada masa itu telah dipenuhi sekitar 360 berhala, meskipun bangunannya didirikan untuk tauhid. Berhala utama antara lain Hubal (terbesar, dari batu akik merah, berada di dalam Ka'bah), Al-Lata (disembah suku Tsaqif di Thaif), Al-'Uzza (disembah Quraisy dan Bani Kinanah), dan Manat (disembah suku Aus dan Khazraj di Yatsrib) — ketiga berhala terakhir dibantah kesyirikannya dalam QS. An-Najm: 19-20.
  • Perbudakan yang meluas dan diperlakukan tanpa perlindungan hukum yang layak; budak dapat diperjualbelikan, diwariskan, dan dipaksa bekerja tanpa batas.
  • Penguburan bayi perempuan hidup-hidup (wa'd al-banat) karena dianggap aib dan beban ekonomi.
  • Kedudukan perempuan yang secara umum rendah dalam banyak segi, meski terdapat pengecualian seperti Khadijah binti Khuwailid sebagai saudagar terpandang.
  • Perjudian (maisir) dengan anak panah undian dan riba yang menjadi kebiasaan dalam transaksi ekonomi, termasuk sistem bunga berlipat yang mencekik peminjam.
  • Fanatisme kesukuan ('ashabiyyah) yang memicu peperangan antar-suku berkepanjangan, seperti Perang Al-Basus antara Bani Bakr dan Bani Taghlib yang berlangsung sekitar 40 tahun hanya dipicu pembunuhan seekor unta, dan Perang Dahis wal Ghabra antara Bani 'Abs dan Bani Dzubyan.
  • Konsumsi khamr yang menjadi bagian budaya sehari-hari dan sering menjadi tema utama syair-syair Jahiliyyah.
  • Praktik nikah yang menyimpang sebagaimana disebutkan 'Aisyah radhiyallahu 'anha dalam Shahih Al-Bukhari, di antaranya nikah istibdha' dan poliandri dalam bentuk tertentu, yang kemudian seluruhnya dihapus oleh Islam.

Penguburan bayi perempuan disinggung Al-Qur'an dengan nada yang sangat keras:

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ ۝ بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ

“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.”

— QS. At-Takwir: 8-9

Namun demikian, tidak semua nilai masyarakat Jahiliyyah buruk. Sebagian nilai seperti kedermawanan (dicontohkan tokoh seperti Hatim Ath-Tha'i), keberanian dalam peperangan, menepati janji, semangat melindungi tetangga dan sekutu, serta penghormatan terhadap tamu tetap dipertahankan dan kelak disempurnakan oleh Islam. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

— HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, sanad hasan; makna serupa dalam Musnad Ahmad

1.4 Peta Kekuatan Politik di Sekitar Jazirah Arab

Menjelang kelahiran Nabi ﷺ dua kekuatan adidaya mendominasi kawasan sekitar Jazirah Arab dan telah lama terlibat perang berkepanjangan memperebutkan pengaruh:

  1. Imperium Romawi Timur (Bizantium), beragama Kristen, menguasai Syam dan Mesir, dengan kerajaan vazal Arab Kristen Ghassaniyyah sebagai penyangga di perbatasan utara Jazirah.
  2. Imperium Persia (Sassaniyah), beragama Majusi (Zoroaster), menguasai Irak dan sebagian Jazirah bagian timur, dengan kerajaan vazal Arab Lakhmiyyah (berpusat di Al-Hirah) sebagai penyangga di perbatasan timur.

Adapun di Yaman, sebelumnya berdiri kerajaan-kerajaan besar seperti Saba' dan Himyar, yang kemakmurannya ditopang oleh Bendungan Ma'rib — sebuah karya irigasi raksasa yang disebut dalam QS. Saba': 15-16. Runtuhnya bendungan ini akibat banjir besar (sailul 'Arim) menyebabkan migrasi besar-besaran suku-suku Yaman ke berbagai penjuru Jazirah, termasuk suku Aus dan Khazraj yang kelak menetap di Yatsrib (Madinah). Yaman kemudian sempat dikuasai oleh Habasyah (Ethiopia) yang Kristen, sebelum akhirnya jatuh ke tangan Persia menjelang masa kenabian.

Terkait dominasi Habasyah di Yaman, terjadi peristiwa penting yang berkaitan langsung dengan sirah Nabi ﷺ, yaitu peristiwa pasukan bergajah (Ashabul Fiil / Tahun Gajah). Abrahah Al-Asyram, gubernur Habasyah di Yaman, membangun gereja besar bernama Al-Qullais di Sana'a untuk mengalihkan tujuan haji orang Arab dari Ka'bah ke gerejanya. Ketika usahanya gagal — bahkan gerejanya dinodai oleh seorang Arab dari Bani Kinanah sebagai bentuk protes — Abrahah murka dan memimpin pasukan besar bersama beberapa ekor gajah, dipimpin gajah utama bernama Mahmud, untuk menghancurkan Ka'bah.

Dalam perjalanannya, pasukan Abrahah sempat merampas 200 ekor unta milik 'Abdul Muththalib, kakek Nabi ﷺ yang saat itu menjadi pemuka Quraisy dan penjaga Ka'bah. Ketika 'Abdul Muththalib menemui Abrahah, ia hanya meminta pengembalian unta-untanya, bukan permohonan agar Ka'bah tidak dihancurkan, seraya berkata, "Aku adalah pemilik unta-unta ini, sedangkan Ka'bah memiliki Pemilik (Allah) yang akan mempertahankannya."

Setelah itu, 'Abdul Muththalib bersama penduduk Makkah mengungsi ke perbukitan sekitar sambil berdoa memohon pertolongan Allah. Ketika pasukan bergajah mendekati Ka'bah, gajah Mahmud justru menderum dan menolak bergerak maju ke arah Ka'bah, meski dituntun ke arah lain ia berjalan normal. Allah kemudian menggagalkan rencana penghancuran ini dengan mengirimkan burung Ababil yang melempari pasukan tersebut dengan batu dari tanah liat yang membara:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ ۝ أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ ۝ وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ ۝ تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ ۝ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

— QS. Al-Fiil: 1-5

Catatan: Mayoritas ulama sirah (termasuk Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam) menyepakati bahwa peristiwa ini terjadi pada tahun yang sama dengan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, yaitu sekitar tahun 570 M, sehingga tahun tersebut dikenal sebagai "Tahun Gajah".

1.5 Kondisi Keagamaan

Meskipun mayoritas penduduk Jazirah Arab menyembah berhala dengan keyakinan bahwa berhala-berhala tersebut adalah perantara (syafaat) menuju Allah — bukan tuhan yang mandiri, sebagaimana ditegaskan Al-Qur'an dalam QS. Az-Zumar: 3 — sebagian kecil orang tetap berpegang pada sisa-sisa ajaran tauhid warisan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimassalam. Kelompok ini dikenal sebagai golongan Hanif, di antaranya:

  • Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah, yang memeluk agama Nasrani dan mempelajari Taurat serta Injil.
  • Zaid bin 'Amr bin Nufail, yang secara terang-terangan menolak penyembahan berhala dan menyeru kaumnya kepada tauhid, meninggal tak lama sebelum kenabian dimulai.
  • 'Utsman bin Al-Huwairits dan Ubaidullah bin Jahsy, yang juga dikenal mencari kebenaran di luar penyembahan berhala.

Selain itu terdapat pula komunitas Yahudi, terutama di Yatsrib (Madinah) yang dihuni tiga suku besar — Bani Qainuqa', Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah — serta di Khaibar dan Fadak, yang bermigrasi ke Jazirah Arab pasca-kehancuran Baitul Maqdis oleh Romawi. Terdapat pula komunitas Nasrani, terutama di Najran (dikenal dalam sejarah peristiwa Ashabul Ukhdud, QS. Al-Buruj) dan di sebagian wilayah Yaman serta Syam bagian selatan yang dipengaruhi Ghassaniyyah.

Kedua komunitas ini memiliki pengetahuan tentang kitab suci terdahulu dan nubuwat tentang kedatangan seorang nabi akhir zaman yang akan diutus dari kalangan bangsa Arab:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”

— QS. Al-A'raf: 157

Terakhir, terdapat pula agama Majusi (Zoroaster) yang dianut sebagian kecil penduduk di wilayah timur Jazirah yang berdekatan dengan pengaruh Persia. Keberagaman keyakinan ini menjadikan Jazirah Arab, khususnya Yatsrib, sebagai kawasan yang relatif terbuka terhadap gagasan-gagasan monoteisme sebelum datangnya Islam, meski mayoritas penduduknya tetap berada dalam kemusyrikan.