Panduan Shalat Fardhu Lengkap
Niat, Gerakan, Bacaan, dan Dalil Hadits Shahih
Panduan ini merapikan dan melengkapi tata cara shalat fardhu, dengan menambahkan keterangan gerakan (tata cara fisik) pada setiap rukun shalat beserta rujukan haditsnya. Bacaan niat, doa iftitah, dan doa-doa lain mengikuti praktik yang umum diamalkan di Indonesia (madzhab Syafi'i), dan diberi keterangan dalil pada bagian yang memungkinkan. Pada beberapa gerakan terdapat perbedaan pendapat (khilafiyah) antar ulama yang sama-sama berdasar pada hadits shahih; panduan ini menyebutkan praktik yang paling umum diikuti beserta dalilnya, dan sesekali mencatat adanya perbedaan pendapat tersebut agar tidak menimbulkan kesan bahwa cara lain keliru.
1. Niat Shalat Dhuhur
Niat dilakukan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram, menyengaja mengerjakan shalat fardhu tertentu karena Allah. Melafalkan niat dengan lisan bukanlah rukun shalat, hanya kebiasaan sebagian ulama untuk membantu menghadirkan hati; bersifat opsional.
أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالى
USHALLII FARDHADH DHUHRI ARBA'A RAKAAATIN MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (MA'MUMAN/IMAAMAN) LILLAHI TA'AALAA. ALLAAHU AKBAR.
Artinya: “Saya menyengaja shalat fardhu Dzuhur empat raka'at menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah. Allahu Akbar.”
Segala amal tergantung niatnya. — HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari Umar bin Khattab.
2. Niat Shalat Ashar
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالى
USHALLII FARDLAL 'ASHRI ARBA'A RAKA'AATIN MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (MA'MUMAN/IMAMAN) LILLAHI TA'AALAA. ALLAAHU AKBAR.
Artinya: “Saya menyengaja shalat fardhu Ashar empat raka'at menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah. Allahu Akbar.”
3. Niat Shalat Maghrib
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالى
USHALLII FARDLAL MAGHRIBI TSALAATSA RAKA'AATIN MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (MA'MUMAN/IMAAMAN) LILLAAHI TA'AALAA. ALLAAHU AKBAR.
Artinya: “Saya menyengaja shalat fardhu Maghrib tiga raka'at menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah. Allahu Akbar.”
4. Niat Shalat 'Isya
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعِشَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالى
USHALLII FARDLAL 'ISYAA-I ARBA'A RAKA'AATIN MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (MA'MUMAN/IMAAMAN) LILLAHI TA'AALAA. ALLAAHU AKBAR.
Artinya: “Saya menyengaja shalat fardhu Isya empat raka'at menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah. Allahu Akbar.”
5. Niat Shalat Subuh
أُصَلِّيْ فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا / إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَالى
USHALLII FARDLASH SHUBHI RAK'ATAINI MUSTAQBILAL QIBLATI ADAA-AN (MA'MUMAN/IMAMAN) LILLAHI TA'AALAA. ALLAAHU AKBAR.
Artinya: “Saya menyengaja shalat fardhu Shubuh dua raka'at menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah. Allahu Akbar.”
6. Berdiri Tegak Menghadap Kiblat (Qiyam)
Berdiri tegak lurus menghadap kiblat bagi yang mampu. Bagi yang tidak mampu berdiri, boleh shalat sambil duduk, dan jika tidak mampu duduk, sambil berbaring, sesuai kemampuan.
"Shalatlah sambil berdiri. Jika tidak mampu, sambil duduk. Jika tidak mampu juga, sambil berbaring." — HR. Bukhari no. 1117, dari 'Imran bin Hushain. Lihat pula QS. Al-Baqarah [2]: 238.
7. Takbiratul Ihram
Mengangkat kedua tangan setinggi bahu atau sejajar daun telinga, jari-jari dirapatkan, telapak tangan menghadap kiblat, sambil mengucapkan takbir. Inilah pembuka shalat; setelah takbir ini seluruh perkara di luar shalat menjadi terlarang.
اللَّهُ أَكْبَرُ
ALLAAHU AKBAR
Artinya: “Allah Maha Besar.”
Nabi ﷺ apabila memulai shalat, beliau bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya. — HR. Bukhari no. 735 dan Muslim no. 390, dari Ibnu Umar.
8. Bersedekap
Setelah takbiratul ihram, tangan diturunkan dan disedekapkan: telapak tangan kanan diletakkan di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan lengan bawah kiri, lalu diletakkan di dada. Posisi ini dipertahankan sebelum dan sesudah membaca surat, sampai akan ruku'.
Wa'il bin Hujr menceritakan bahwa ia melihat Nabi ﷺ, ketika berdiri dalam shalat, meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. — HR. Muslim no. 401, Abu Dawud no. 727, dan An-Nasa'i.
Sebagian ulama (di antaranya sebagian riwayat dalam madzhab Maliki) berpendapat tangan dilepas di samping tanpa bersedekap; jumhur ulama berpendapat bersedekap adalah sunnah yang lebih kuat dalilnya.
9. Doa Iftitah — Opsi 1 (Utama)
Dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah, dalam posisi bersedekap. Hukumnya sunnah, boleh memilih salah satu opsi lafaz iftitah yang shahih.
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالِمِيْنَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
ALLAAHU AKBAR KABIIRAA WALHAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAN WA-ASHIILAA. INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS-SAMAAWAATI WAL-ARDLA HANIIFAN MUSLIMAN WAMAA ANAA MINAL MUSYRIKIIN. INNA SHALAATII WA NUSUKII WA MAHYAAYA WA MAMAATII LILLAAHI RABBIL 'AALAMIIN. LAA SYARIIKA LAHU WABIDZAALIKA UMIRTU WA ANAA MINAL MUSLIMIIN.
Artinya: “Allah Maha Besar, sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Kuhadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan berserah diri, dan aku bukan termasuk golongan musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk golongan orang-orang muslim.”
HR. Muslim no. 771, Abu Dawud, dan Tirmidzi, dari Ali bin Abi Thalib. (Nabi ﷺ diam sejenak antara takbir dan bacaan Al-Fatihah — HR. Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598.)
10. Doa Iftitah — Opsi 2 (Alternatif)
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
ALLAAHUMMA BAA'ID BAINII WABAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA'ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLAAHUMMA NAQQINII MIN KHATHAAYAAYA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAAHUMMAGHSILNII MIN KHATHAAYAAYA BILMAA-I WATS TSALJI WAL BARAD.
Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.”
HR. Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598, dari Abu Hurairah.
11. Doa Iftitah — Opsi 3 (Pengagungan)
Doa ini dibaca oleh Abdullah bin Zubair, dan disunnahkan oleh Nabi ﷺ.
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
ALLAAHU AKBARU KABIIRAA, WALHAMDU LILLAAHI KATSIIRAA, WA SUBHAANALLAAHI BUKRATAN WA ASHIILAA.
Artinya: “Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari.”
HR. Muslim no. 601, dari Ibnu 'Umar.
12. Doa Iftitah — Opsi 4 (Penyucian & Tauhid)
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA, WA TABAARAKASMUKA, WA TA'AALAA JADDUKA, WA LAA ILAAHA GHAIRUKA.
Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Maha Berkah nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tiada Tuhan selain Engkau.”
HR. Abu Dawud no. 776, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani.
13. Doa Iftitah — Opsi 5 (Pengakuan Kebenaran)
Doa yang sering dibaca Nabi ﷺ saat shalat malam (tahajjud), dan shahih pula untuk dibaca sebagai iftitah shalat fardhu maupun sunnah.
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ الْحَقُّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ
ALLAAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA NUURUS SAMAAWAATI WAL ARDLI WAMAN FIIHINNA, WA LAKAL HAMDU ANTA QAYYIMUS SAMAAWAATI WAL ARDLI WAMAN FIIHINNA, ANTAL HAQQU WA WA'DUKAL HAQQU WA QAULUKAL HAQQU WA LIQAA-UKAL HAQQU WAL JANNATU HAQQUN WAN NAARU HAQQUN WAS SAA'ATU HAQQUN WAN NABIYYUUNA HAQQUN WA MUHAMMADUN SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAMA HAQQ.
Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau pengurus langit dan bumi serta seisinya. Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, hari kiamat itu benar, para nabi itu benar, dan Nabi Muhammad SAW itu benar.”
HR. Bukhari no. 1120 dan Muslim no. 769, dari Ibnu Abbas.
14. Membaca Surat Al-Fatihah
Dibaca pada setiap rakaat dalam posisi berdiri (bagi yang mampu), tetap bersedekap. Membaca Al-Fatihah adalah rukun shalat; shalat tidak sah tanpanya. Setelah selesai membaca, disunnahkan mengucapkan "Aamiin" dengan mengeraskan suara pada shalat jahr.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ. آمِيْنِ
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM. ALHAMDU LILLAAHI RABBIL 'AALAMIIN. ARRAHMAANIRRAHIIM. MAALIKI YAUMIDDIIN. IYYAAKA NA'BUDU WA IYYAAKA NASTA'IIN. IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM. SHIRAATHAL LADZIINA AN'AMTA 'ALAIHIM GHAIRIL MAGHDLUUBI 'ALAIHIM WALADL DLAALLIIN. AAMIIN.
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
"Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Al-Fatihah." — HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394, dari Ubadah bin Shamit.
15. Surat An-Nas (Setelah Al-Fatihah)
Disunnahkan membaca satu surat pendek atau beberapa ayat setelah Al-Fatihah, pada rakaat pertama dan kedua saja (rakaat ketiga dan keempat cukup membaca Al-Fatihah).
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلَٰهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
QUL A'UUDZU BIRABBIN NAAS. MALIKIN NAAS. ILAAHIN NAAS. MIN SYARRIL WASWAASIL KHANNAAS. ALLADZII YUWASWISU FII SHUDUURIN NAAS. MINAL JINNATI WAN NAAS.
Artinya: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.”
Nabi ﷺ membaca surat setelah Al-Fatihah pada tiap rakaat shalat — HR. Bukhari no. 759 dan Muslim no. 451, dari Abu Qatadah.
16. Surat Al-Ikhlas (Setelah Al-Fatihah)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ. اَللّٰهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
QUL HUWALLAAHU AHAD. ALLAAHUSH SHAMAD. LAM YALID WALAM YUULAD. WALAM YAKUL LAHUU KUFUWAN AHAD.
Artinya: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”
17. Ruku'
Membungkukkan badan hingga punggung dan kepala rata (lurus, tidak menunduk dan tidak mendongak), kedua tangan memegang lutut dengan jari-jari direnggangkan, siku tidak menempel ke lambung. Dilakukan dengan tenang (tuma'ninah), tidak tergesa-gesa.
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ (3x)
SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIMI WABIHAMDIHI (dibaca 3 kali)
Artinya: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung, dan aku memuji-Nya.”
Aisyah berkata: "Nabi ﷺ apabila ruku', beliau tidak menundukkan kepalanya dan tidak pula mengangkatnya, tetapi pertengahan di antara keduanya." — HR. Muslim no. 498. Bacaan: HR. Muslim no. 772, dari Hudzaifah bin Al-Yaman.
18. I'tidal
Bangkit dari ruku' hingga berdiri tegak sempurna, sambil mengangkat kedua tangan setinggi bahu/telinga seperti pada takbiratul ihram, lalu tangan diturunkan, disertai tuma'ninah sebelum turun sujud.
سَمِعَ اللّٰهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
SAMI'ALLAAHU LIMAN HAMIDAH — RABBANAA LAKAL HAMDU MIL-US SAMAAWAATI WA MIL-UL ARDLI WA MIL-U MAA SYI'TA MIN SYAI-IN BA'DU.
Artinya: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu.”
HR. Bukhari no. 795 dan Muslim no. 409, dari Abu Hurairah; HR. Bukhari no. 735 dan Muslim no. 390, dari Ibnu Umar (tentang mengangkat tangan).
19. Sujud Pertama
Turun dari i'tidal dengan mendahulukan kedua lutut sebelum tangan, lalu meletakkan tujuh anggota badan ke lantai: dahi beserta hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari-jari kedua kaki. Siku diangkat, tidak menempel ke lantai atau ke lambung. Jari-jari tangan dan kaki dirapatkan menghadap kiblat. Dilakukan dengan tuma'ninah.
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ (3x)
SUBHAANA RABBIYAL A'LAA WABIHAMDIHI (dibaca 3 kali)
Artinya: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan aku memuji-Nya.”
"Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh tulang (anggota badan)." — HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490, dari Ibnu Abbas. Larangan menghamparkan lengan: HR. Bukhari no. 822 dan Muslim no. 493, dari Anas bin Malik. Bacaan: HR. Muslim no. 772.
20. Duduk Antara Dua Sujud
Bangkit dari sujud pertama dengan duduk iftirasy: telapak kaki kiri dibentangkan lalu diduduki, kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari menghadap kiblat, kedua tangan diletakkan di atas paha/lutut. Dilakukan dengan tuma'ninah sebelum sujud kedua.
رَبِّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَاعْفُ عَنِّي
RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA'NII WARZUQNII WAHDINII WA'AAFINII WA'FU 'ANNII.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, berilah aku kesehatan, dan maafkanlah aku.”
Sifat duduk iftirasy disebutkan dalam hadits Abu Humaid As-Sa'idi — HR. Bukhari no. 828. Bacaan: HR. Abu Dawud no. 850, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas.
21. Sujud Kedua
Sujud kembali dengan tata cara dan bacaan yang sama seperti sujud pertama. Setelah sujud kedua rakaat pertama selesai, bangkit menuju rakaat berikutnya dengan bertumpu pada kedua tangan.
Malik bin Huwairits menceritakan bahwa Nabi ﷺ bertumpu pada tangan saat bangkit — HR. Bukhari no. 824.
Sebagian ulama memandang jalsah istirahah (duduk sejenak sebelum bangkit) sebagai sunnah hai'at; ulama lain berpendapat itu hanya kebiasaan Nabi ﷺ di usia lanjut. Keduanya berdasar riwayat yang shahih.
22. Duduk Tasyahud Awal
Dilakukan pada rakaat kedua (untuk shalat lebih dari dua rakaat). Duduk iftirasy seperti duduk antara dua sujud. Tangan kiri dibentangkan di atas paha/lutut kiri, tangan kanan diletakkan di atas paha/lutut kanan dengan jari-jari digenggam kecuali telunjuk, yang diacungkan (isyarat) saat mengucapkan lafaz syahadat.
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ. اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد
ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWAATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALAA 'IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN. ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. ALLAAHUMMA SHALLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kebaikan bagi Allah. Salam, rahmat, dan berkah Allah semoga tercurah kepadamu wahai Nabi. Salam sejahtera semoga tetap untuk kami dan hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad.”
Ibnu Umar menggambarkan Nabi ﷺ duduk tasyahud dengan menggenggam jari-jarinya dan mengisyaratkan dengan jari telunjuk — HR. Muslim no. 580.
23. Duduk Tasyahud Akhir
Duduk tawarruk: kaki kiri dimasukkan di bawah betis kaki kanan, dan pantat menyentuh lantai langsung, kaki kanan tetap tegak dengan jari menghadap kiblat. Posisi tangan dan isyarat jari telunjuk sama seperti tasyahud awal, ditambah bacaan shalawat kepada Nabi ﷺ dan keluarganya.
(Membaca tasyahud seperti pada tasyahud awal, dilanjutkan) وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. KAMAA SHALLAITA 'ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIMA WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM, WA BAARIK 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD, KAMAA BAARAKTA 'ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIMA WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM FIL 'AALAMIIN, INNAKA HAMIIDUM MAJIID.
Artinya: “Dan limpahkanlah rahmat kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkahilah junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberkahi junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya, di seluruh alam semesta. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Abu Humaid As-Sa'idi menjelaskan bahwa pada rakaat terakhir Nabi ﷺ menggeser kaki kiri dan duduk tawarruk — HR. Bukhari no. 828. Shalawat Ibrahimiyah: HR. Bukhari no. 3370 dan Muslim no. 406, dari Ka'ab bin 'Ujrah.
24. Salam
Menoleh ke kanan sampai pipi kanan terlihat dari belakang, mengucapkan salam, lalu menoleh ke kiri sampai pipi kiri terlihat dari belakang sambil mengucapkan salam kembali. Salam ini menjadi penutup shalat.
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ
ASSALAAMU 'ALAIKUM WARAHMATULLAAH
Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap tercurah kepada kalian.”
"Kunci shalat adalah bersuci, pembukanya adalah takbir, dan penutupnya adalah salam." — HR. Abu Dawud no. 61, Tirmidzi. Sa'ad bin Abi Waqqash: "Aku melihat Rasulullah ﷺ mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat putihnya pipi beliau." — HR. Muslim no. 582.
25. Doa Qunut (Shalat Subuh, Rakaat Kedua Saat I'tidal)
Dibaca setelah bangkit i'tidal pada rakaat kedua shalat Subuh, sebelum sujud, dengan mengangkat kedua tangan seperti berdoa.
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيتَ. فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيتَ. تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيتَ. أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAIT, WA 'AAFINII FIIMAN 'AAFAIT, WA TAWALLANII FIIMAN TAWALLAIT, WA BAARIK LII FIIMAA A'THAIT, WA QINII SYARRA MAA QADLAIT. FA INNAKA TAQDLII WALAA YUQDLAA 'ALAIK, WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIT, WA LAA YA'IZZU MAN 'AADAIT. TABAARAKTA RABBANAA WA TA'AALAIT. FALAKAL HAMDU 'ALAA MAA QADLAIT. ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK. WASHALLALLAAHU 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIYYI WA 'ALAA AALIHI WASHAHBIHI WASALLAM.
Artinya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan. Uruslah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau urus. Berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan. Peliharalah aku dari keburukan yang telah Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan tidak ada yang menetapkan atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau beri wala (pertolongan), dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Berkah Engkau, wahai Tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau. Bagi-Mu segala puji atas apa yang telah Engkau tetapkan. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
HR. Abu Dawud no. 1425, Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah, dari Al-Hasan bin Ali, dinilai hasan shahih.
Qunut subuh termasuk masalah khilafiyah. Sebagian ulama (di antaranya madzhab Syafi'i) menganjurkannya secara terus-menerus (riwayat Anas bin Malik, HR. Ahmad); ulama lain (madzhab Hanafi dan Hanbali) berpendapat qunut subuh rutin tidak disyariatkan kecuali saat ada musibah (qunut nazilah), berdasarkan HR. Bukhari no. 4560 dan Muslim no. 677, dari Anas bin Malik.
Rukun-rukun shalat (niat, takbiratul ihram, berdiri, membaca Al-Fatihah, ruku', i'tidal, sujud dua kali, duduk antara dua sujud, tasyahud akhir, shalawat, dan salam) wajib dikerjakan secara berurutan (tertib) dan dengan tuma'ninah (tenang/berhenti sejenak, tidak tergesa-gesa). Ini ditegaskan dalam hadits Al-Musii' fii Shalatihi: seorang sahabat shalat lalu memberi salam kepada Nabi ﷺ, namun beliau bersabda, "Ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat," diulang hingga tiga kali (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397, dari Abu Hurairah). Adapun bacaan-bacaan selain Al-Fatihah dan tasyahud (doa iftitah, surat pendek, doa qunut, dan lain-lain) berstatus sunnah; shalat tetap sah walau ditinggalkan, namun kesempurnaan dan pahalanya berkurang. Panduan ini disusun untuk kepentingan pembelajaran umum — untuk praktik yang benar-benar tepat, dianjurkan belajar langsung (talaqqi) di hadapan guru/ustadz.
Rujukan: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa'i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad; Sifat Shalat Nabi ﷺ (Syekh Al-Albani)