Shalat Tasbih
Status hadits diperselisihkan ulama
Shalat tasbih adalah salah satu shalat sunnah yang status keshahihan haditsnya diperselisihkan ulama. Dinilai dhaif/tidak layak diamalkan oleh: Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Imam An-Nawawi, Ibnu Qudamah, dan Al-Lajnah Ad-Da'imah (Komite Fatwa Arab Saudi) — sebagian bahkan menilainya munkar. Dinilai shahih/hasan sehingga boleh diamalkan oleh: Imam Abu Dawud, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Ibnu Ash-Shalah, dan Syaikh Al-Albani (dalam Shahih Sunan Abi Dawud). Karena ada ulama besar ahli hadits yang mensahihkannya, tata caranya tetap dicantumkan di sini sebagai referensi, dengan catatan status di atas agar pembaca dapat mengambil sikap sesuai keyakinan masing-masing.
1. Niat Sunnah Tasbih
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّسْبِيحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatat tasbiihi rak'ataini lillaahi ta'aalaa.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah tasbih dua rakaat karena Allah Ta'ala.”
2. Bacaan Tasbih (75x per rakaat)
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.”
Dikerjakan 4 rakaat (2 salam jika siang hari, atau boleh 4 rakaat 1 salam jika malam hari). Pada setiap rakaat dibaca tasbih "Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar" sebanyak 75 kali (total 300 kali dalam 4 rakaat), dengan urutan: setelah membaca surat sebelum ruku' 15x, saat ruku' 10x, saat i'tidal 10x, saat sujud pertama 10x, saat duduk di antara dua sujud 10x, saat sujud kedua 10x, saat duduk sejenak sebelum berdiri/sebelum salam pada rakaat terakhir 10x.
Rujukan: HR. Abu Dawud no. 1297, Ibnu Majah no. 1387