TEMANI

Panduan Shalat

Shalat Jenazah & Shalat Ghaib

Fardhu kifayah — empat takbir tanpa ruku' dan sujud

Shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah — jika sudah dikerjakan sebagian kaum muslimin, gugurlah kewajiban bagi yang lain. Nabi ﷺ mengumumkan kematian Raja Najasyi pada hari kematiannya, lalu keluar bersama para sahabat menuju tanah lapang, membariskan mereka, dan bertakbir empat kali (HR. Bukhari no. 1245, Muslim no. 951) — hadits ini juga menjadi dasar disyariatkannya shalat ghaib (menyalatkan jenazah yang berada di tempat jauh). Syarat: sama seperti shalat pada umumnya (suci dari hadats, suci badan/pakaian/tempat, menutup aurat, menghadap kiblat), ditambah jenazah sudah dimandikan dan dikafani, serta diletakkan di arah kiblat dari orang yang menyalatkan.

1. Niat & Takbir Pertama — Mayit Laki-laki

Niat bersamaan takbiratul ihram (takbir pertama dari total 4 takbir), dilanjutkan membaca surat Al-Fatihah.

أُصَلِّي عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ (مَأْمُومًا/إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى

Ushallii 'alaa haadzal mayyiti arba'a takbiiraatin fardlal kifaayati (ma'muuman/imaaman) lillaahi ta'aalaa.

Artinya: “Aku niat shalat atas mayit ini empat takbir, fardhu kifayah (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta'ala.”

2. Niat & Takbir Pertama — Mayit Perempuan

أُصَلِّي عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ (مَأْمُومًا/إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى

Ushallii 'alaa haadzihil mayyitati arba'a takbiiraatin fardlal kifaayati (ma'muuman/imaaman) lillaahi ta'aalaa.

Artinya: “Aku niat shalat atas mayit (perempuan) ini empat takbir, fardhu kifayah (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta'ala.”

3. Takbir Kedua — Shalawat

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allaahumma shalli 'alaa Muhammadiw wa 'alaa aali Muhammadin kamaa shallaita 'alaa Ibraahiima wa 'alaa aali Ibraahiim, innaka Hamiidum Majiid.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana telah Engkau limpahkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

HR. Bukhari no. 3370, Muslim no. 406.

4. Takbir Ketiga — Doa untuk Mayit

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ

Allaahummaghfir lahu warhamhu wa'aafihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' madkhalahu, waghsilhu bilmaa-i wats-tsalji wal baradi, wa naqqihi minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadlu minad danas, wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa qihi fitnatal qabri wa 'adzaaban naar.

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, berilah dia keselamatan dan maafkanlah dia. Muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburnya, bersihkanlah dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah dia dari dosa-dosa sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Lindungilah dia dari fitnah kubur dan siksa neraka.”

HR. Muslim no. 963, dari Auf bin Malik. (Doa ringkas alternatif: "Allaahummaghfir lahu warhamhu wa'aafihi wa'fu 'anhu" — Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, berilah dia keselamatan, dan maafkanlah dia.)

5. Takbir Keempat & Salam

Setelah takbir keempat, salam ke kanan (dan ke kiri).

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaah.

Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian.”

6. Niat Shalat Ghaib

Dikerjakan dengan tata cara yang sama seperti shalat jenazah, untuk mayit yang tidak hadir jenazahnya (misalnya berada jauh di tempat lain).

أُصَلِّي عَلَى الْمَيِّتِ الْغَائِبِ (فُلَانٍ) أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushallii 'alal mayyitil ghaa-ibi (fulaanin) arba'a takbiiraatin fardlal kifaayati lillaahi ta'aalaa.

Artinya: “Aku niat shalat atas mayit yang gaib (fulan) empat takbir, fardhu kifayah, karena Allah Ta'ala.”

Dalilnya adalah hadits shalat ghaib Nabi ﷺ untuk Raja Najasyi (HR. Bukhari no. 1245, Muslim no. 951).

Shalat jenazah tidak memakai ruku' dan sujud, serta tidak didahului adzan dan iqamah. Terdiri dari 4 takbir sambil berdiri: (1) niat & takbir pertama lalu membaca Al-Fatihah, (2) takbir kedua membaca shalawat, (3) takbir ketiga mendoakan mayit, (4) takbir keempat lalu salam ke kanan (dan ke kiri).

Rujukan: HR. Bukhari no. 1245, Muslim no. 951 & 963