TEMANI

Panduan Shalat

Shalat Idul Fitri & Idul Adha

Dua rakaat pada pagi hari raya

Disyariatkan berdasarkan praktik Nabi ﷺ yang senantiasa mengerjakannya setiap tahun bersama seluruh kaum muslimin, termasuk mengajak wanita dan anak-anak untuk turut hadir (HR. Bukhari no. 974, Muslim no. 890, dari Ummu Athiyyah). Hukumnya sunnah muakkad menurut jumhur ulama.

1. Niat Shalat Idul Fitri

أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ (إِمَامًا/مَأْمُومًا) لِلَّهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatal li'iidil fithri rak'ataini (imaaman/ma'muuman) lillaahi ta'aalaa.

Artinya: “Aku niat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (sebagai imam/makmum) karena Allah Ta'ala.”

2. Niat Shalat Idul Adha

أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ (إِمَامًا/مَأْمُومًا) لِلَّهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatal li'iidil adl-haa rak'ataini (imaaman/ma'muuman) lillaahi ta'aalaa.

Artinya: “Aku niat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat (sebagai imam/makmum) karena Allah Ta'ala.”

Dikerjakan dua rakaat tanpa didahului adzan dan iqamah, cukup dengan seruan "Ash-Shalaatu Jaami'ah". Rakaat pertama: takbiratul ihram, lalu takbir tambahan 7 kali sebelum membaca Al-Fatihah. Rakaat kedua: sebelum membaca Al-Fatihah, takbir tambahan 5 kali (HR. Abu Dawud no. 1149, Ibnu Majah no. 1280, dinilai hasan). Setelah shalat dilanjutkan dua khutbah; disunnahkan mandi, memakai pakaian terbaik, makan sebelum berangkat khusus Idul Fitri (menunda makan hingga selesai shalat khusus Idul Adha), serta melewati rute berbeda saat pergi dan pulang.

Rujukan: HR. Bukhari no. 974, Muslim no. 890, Abu Dawud no. 1149