Shalat Gerhana (Kusuf & Khusuf)
Setiap rakaat: dua kali berdiri dan dua kali ruku'
Aisyah menceritakan bahwa terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah ﷺ, maka beliau menyuruh seorang penyeru mengumandangkan "Ash-Shalaatu Jaami'ah". Nabi ﷺ maju sebagai imam, bertakbir, membaca surat panjang, ruku' panjang, i'tidal, lalu berdiri lagi membaca surat panjang (lebih pendek dari yang pertama), kemudian ruku' panjang lagi — sehingga tiap rakaat terdapat dua kali berdiri dan dua kali ruku' (HR. Bukhari no. 1052, Muslim no. 901). "Matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga gerhana itu berakhir." (HR. Bukhari no. 1043, Muslim no. 915).
1. Niat Gerhana Matahari (Kusuf)
أُصَلِّي سُنَّةَ الْكُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatal kusuufi rak'ataini lillaahi ta'aalaa.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah gerhana matahari dua rakaat karena Allah Ta'ala.”
2. Niat Gerhana Bulan (Khusuf)
أُصَلِّي سُنَّةَ الْخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatal khusuufi rak'ataini lillaahi ta'aalaa.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta'ala.”
Tata cara tiap rakaat: takbiratul ihram, Al-Fatihah dan surat panjang, ruku' panjang, i'tidal (bangkit dari ruku', bukan langsung sujud) lalu Al-Fatihah dan surat panjang lagi, ruku' kedua (lebih pendek), i'tidal, lalu sujud dua kali seperti biasa. Rakaat kedua dikerjakan dengan pola yang sama. Salam, dilanjutkan khutbah oleh imam berisi ajakan taubat, istighfar, sedekah, dan dzikir.
Rujukan: HR. Bukhari no. 1052 & 1043, Muslim no. 901 & 915