TEMANI

Panduan Shalat

Shalat Awwabin

Catatan kehati-hatian tentang istilah "awwabin"

Di masyarakat, shalat awwabin dikenal sebagai shalat 6 rakaat setelah Maghrib. Namun hadits-hadits yang menyebutkan bilangan 6 rakaat setelah Maghrib dengan nama "awwabin" dinilai lemah (dhaif), bahkan sangat lemah, oleh para ahli hadits seperti Syaikh Al-Albani, sehingga riwayat tersebut tidak dijadikan sandaran di sini. Hadits shahih yang menggunakan istilah shalatul awwabin justru merujuk pada shalat Dhuha: "Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (awwabin) adalah ketika anak-anak unta mulai kepanasan" — yaitu di waktu Dhuha, saat matahari sudah cukup tinggi (HR. Muslim no. 748, dari Zaid bin Arqam).

Kesimpulan praktis: siapa yang ingin mengamalkan "shalat awwabin" sebagaimana tuntunan shahih, cukup mengerjakannya sebagai bagian dari shalat Dhuha (lihat panduan Shalat Dhuha) pada waktu matahari mulai terasa panas — bukan sebagai shalat tersendiri 6 rakaat setelah Maghrib.

Rujukan: HR. Muslim no. 748